Satu Lagi Dari Selatan Jawa

Salah satu temen traveling favorit saya adalah temen-temen kuliah. Alhamdulillah, berbeda dengan temen-temen kita lainnya di masa kampus yang kebanyakan lose contact ketika udah masuk dunia kerja, kita masih stick together, meski nggak sesering waktu jaman kuliah dulu tentunya.

Kita sering banget ngerencanain pergi kemana gitu bareng. Walaupun seringnya rencana-rencana ini berakhir wacana karena sulitnya nyatuin jadwal kita semua yang super sibuk, tapi kayaknya kita nggak pernah kapok untuk terus bikin planning liburan seru buat ngisi tanggal-tanggal merah yang jarang muncul itu.

Anyway, kira-kira dua bulan lalu waktu kita ngumpul, kita ngerencanain untuk pergi liburan pas libur long weekend, yaitu tanggal 15-18 November. Pokoknya, libur panjang ini harus pergi bareng, jangan sampe jadi lewat gitu aja kaya libur-libur sebelumnya.

Hal pertama yang harus dilakukan: milih destinasi. Nyatuin ide-ide dari 10 kepala itu susah banget, karena maunya pasti beda-beda. Dimulai dari urusan general dulu, mau ke gunung atau pantai. Saya sendiri waktu itu milih gunung, karena kayaknya tahun ini udah banyak banget ke pantainya. Tapi kebanyakan temen-temen lain milih ke pantai karena lebih seru.

Akhirnya secara demokratis kita voting. Dan akhirnya pantai lah yang dipilih sebagai tujuan liburan kita. Step kedua, pantai mana?

Pilihan kita waktu itu ada dua, ke Desa Sawarna di Banten atau ke Teluk Kiluan di Lampung. Jujur, saya lebih tertarik Kiluan karena belum pernah sama temen-temen ke Pulau Sumatra. Tapi setelah dilihat dari itenerary nya, ternyata ke Kiluan itu lama di jalannya..dan ombaknya cukup gede. Lagi-lagi voting dilakukan…dan Desa Sawarna keluar sebagai destinasi wisata kita kali ini.

Mulailah kita persiapan. Seperti biasa, 10 orang ini dibagi-bagi tugas. Seperti biasa saya (agak maksa) untuk jadi yang ngurus itenerary. Tadinya kita milih untuk jalan sendiri, nyewa mobil, homestay dll sendiri. Tapi kok setelah diitung-itung jadi lebih mahal ya…

Maka dipilihlah Javas Tours, tour agent yang dulu pernah bawa saya ke Krakatau untuk “ngawal” kita ke Sawarna. Alhamdulillah, dapat harga yang ramah kantong pula sama mereka. Deal was made, set, and we’re ready to go.

Kita bener-bener tahu beres, tinggal bayar dan nunggu hari keberangkatan. Sempet ada masalah kecil di H-1 sebelum kita cabut, tapi akhirnya lewat juga. We’re ready for Sawarna!

Perjalanan ke Desa Sawarna itu memakan waktu kira-kira 5-6 jam. Waktu itu kita berangkat jam 23.30, dengan harapan jam lima pagi bisa lihat matahari terbit di Sawarna. Sayangnya, karena jalan menuju Sawarna kurang mulus, kita baru tiba di desa Banten ini pukul 06.00 WIB.

Dengan badan capek, pegel dan mata sepet karena tidur yang nggak nyaman di ELF yang mengantar kita, Sawarna menyambut kami hangat. Dan ternyata sesampainya di sana kita nggak langsung istirahat, tapi cuma beberes sebentar, terus langsung lanjut lagi ke pantai.

Untungnya temen-temen saya body-nya pada tangguh. Jadi langsung lanjut perjalanan tanpa istirahat pun nggak capek-capek banget. Tujuan pertama kita itu Pantai Ciantir.

Saya udah dikasih tau kalau Sawarna ini pantai-pantainya berombak besar, jadi sebaiknya nggak berenang disini. Jadi mikirnya, ah paling ke sini ya cuma bisa duduk-duduk aja di pantai. Nothing else.

Iya bener, memang cuma bisa duduk-duduk aja di pantai. Tapi untuk mencapai pantainya itu loh…harus trekking lumayan jauh. Pertama ke Pantai Ciantir kita harus ngelewatin rumput dan kebun kelapa, kira-kira 1 km. Terus dari Pantai Ciantir lanjut ke Tanjung Layar juga jalan lagi 2 km. Jauh ya..

Tapi kebayar! Pantai Ciantir itu cantik banget, pasirnya kayak tepung, haluus banget. Tanjung Layar juga keren, karang besar raksasa yang mirip kapal layar, cocok banget buat foto-foto. Untuk mencapai karang ini juga cukup sulit, kita harus masuk ke laut sedalam lutut orang dewasa yang penuh karang tajam licin…awas hati-hati disini! Saya aja sempet kepeleset dikit –a

Itulah pagi pertama saya di Sawarna. Dari Tanjung Layar, kita pulang dan istirahat di homestay. Untungnya lagi pakai jasanya Javas Tour, kita dikasih homestay yang jauh dari keramaian dan cukup dekat dari pantai. Jadi bisa tetep nyaman, beda dengan homestay lain yang suasananya mirip gang Poppies di Bali.

Pantai Ciantir

Tanjung Layar

Setelah istirahat sebentar, perjalanan dilanjutin lagi. Trekking lagi. Kali ini ke Goa Lalay, salah satu dari banyak goa karst yang ada di Sawarna.

Asyiknya ke Sawarna ini, kita bisa menikmati dua pemandangan, pemandangan pantai dan sawah. Jadi serasa ada di dua dunia yang berbeda. Pemandangan sawah dan bukit-bukit hijau inilah yang menemani kami mencapai Goa Lalay.

Perjalanan menuju Goa Lalay

Perjalanan ke Goa Lalay itu kira-kira 3 kilometer. Melewati persawahan, sungai yang banyak kupang (siput) dan juga jalanan berbatu. Matahari panas dan perut kita yang kosong belum makan siang udah mulai teriak-teriak.

Sampailah di Goa Lalay. Duh..masuk Goa panasnya udara luar langsung ilang karena lorong goa yang sejuk. Goa Lalay ini setengahnya terendam air sedalam betis orang dewasa, dan suepr gelap. Sepintas saya lihat goa ini penampakannya kayak Lembah Harau di Payakumbuh, Sumatra Barat tapi dari versi yang lebih kecil.

Goa Lalay

Lucunya, perjalanan kita caving di Goa Lalay ini gak cuma ditemenin sama guide warga lokal aja, tapi ada beberapa anak yang ikut kita. Salah seorang anak itu berjalan di samping saya, memberi tahu dimana letak batu dan karang yang berada di bawah air, supaya saya tidak terpeleset.

“Kak, nginapnya di mana?” tanya bocah kecil ini.

“Dimana ya..kalau gak salah dekat Pantai Ciantir,” jawab saya.

Sambil memegang tangan saya dia tiba-tiba bercerita,”Oh disitu. Kalau disitu yang punya sudah almarhum kak,”

serrr…mendadak saya merinding. Rasanya random sekali bocah ini tiba-tiba cerita soal orang meninggal.

Singkat cerita, selepas Goa Lalay kita balik ke homestay, makan siang dan tidur sebentar. Kata mas Caya dari Javas Tours, nanti sekira jam 15.00 kita mau piknik di Pantai Pulo Manuk.

Saya sama sekali nggak expect apa-apa, nggak kebayang piknik seperti apa yang mereka sediakan. Pokoknya kami dibawa ke Pantai Pulo Manuk, yang sepi total. Pantainya pasir putih, ombaknya berdebur menyambut kami yang masih amaze dengan penampakan pantai itu.

Sett, mas-mas dari Javas Tours ngeluarin taplak meja kotak-kotak merah putih, digelar di pasir. Seiring mereka juga mengeluarkan seperangkat alat barbeque, cemilan, beberapa buah dan soft drink. Voila, mendadak piknik!

Piknik Pulo Manuk

Kita langsung gegirangan seru ngelyat preparation yang niat banget dari Javas Tours. Selagi mereka menyiapkan BBQ, kita foto-foto di pantai. Dengan dress code yang udah sengaja dikompakin pake warna putih, hebohlah kita mewarnai sore itu.

Singkat kata, piknik kita di Pulo Manuk ditutup dengan berangkulan melihat matahari turun ke peraduan 🙂

Sunset Pulo Manuk

Pagi terakhir di Sawarna. mata kami masih cukup berat untuk bangun pukul 04.30 WIB, setelah semalaman suntuk bakar-bakar ikan. Tapi, demi melihat matahari terbit di Lagoon Pari, semua yang berat pun ditinggalkan.

Kabarnya, sunrise Lagoon Pari adalah yang terbaik di Sawarna. Berangkatlah kami dari homestay, setelah sebelumnya diberi tahu bahwa untuk mencapai Lagoon Pari harus melewati jalur trekking yang lumayan selama 45 menit.

Dan ternyata..jalur trekkingnya bukan lumayan. Tapi susah! Ya..buat saya sih susah, secara udah lama banget nggak olahraga. Jalur trekkingnya ini mendaki gunung lewati lembah banget, lewat jalur-jalur berbatu. Tapi tetep, ditemani sawah di kanan kiri. Dan untungnya ini semua kebayar setelah melihat Lagoon Pari yang cantik, dengan matahari yang masih malu-malu menyapa dari ufuk timur.

Lagoon Pari ini sepi. tenang. Hanya ada beberapa warung kecil dan kapal-kapal nelayan saja. Pasirnya putih dan padat, seperti di Pulau Peucang.

Sunrise Lagoon Pari

Setelah sedikit terang, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Karang Taraje. Karang ini adalah karang raksasa yang bentuknya seperti tangga di sebelah timur Lagoon Pari. Seperti biasa, harus melewati karang-karang licin dulu untuk mencapai tempat ini. Lelah? Super. Tapi lagi-lagi, pemandangan dari atas Karang Taraje yang massive membuat kami kehilangan semua lelah yang mengikat kaki.

Karang Tareje

Over all, perjalanan ke Sawarna ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Saya kira kita cuma akan duduk di pantai, santai..ternyata bener-bener seperti petualangan, melewati jalur trekking yang cukup sulit. Apalagi perjalanannya bersama teman-teman tersayang 🙂

for me this trip makes me realize a new definition of friendship. Anyhoo..thank you Javas Tours for the trip. totally recommended! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s