January in Jakarta

Kemana kamu menghabiskan bulan pertama di 2013? Saya, seperti biasanya di awal tahun memang tidak ada undangan Dinas Luar Kota. Akhirnya, untuk memuaskan dahaga pengen-jalan-jalan-tapi-nggak-ada-duit, saya memutuskan untuk keliling Jakarta.

Jakarta di Januari ini punya kesan tersendiri yang berbeda bagi saya. Hujan dan banjir melanda ibukota, membuat saya melihat kota ini dari perspektif yang baru. Selama ini saya hanya melihat banjir di Jakarta dari layar kaca saja, secara saya orang Bogor yang kerap menjadi tempat yang disalahkan ketika Jakarta Banjir.

Jadi, ketika Jakarta dilanda hujan besar dan banjir pada 17 Januari lalu, saya sedang berada di jalan. Saat berangkat dari rumah, saya dapat kabar bahwa kereta–moda transportasi yang selalu saya pakai untuk mencapai kantor–hanya beroperasi sampai Stasiun Pasar Minggu, padahal tujuan saya, Stasiun Gondangdia masih sangat jauh.

Akhirnya, saya memutuskan untuk berangkat bersama ayah saya (yang kantornya di blok M) dengan mobil. Rencana awal, sampai di Blok M saya akan naik Bus Transjakarta sampai halte Bank Indonesia, yang paling dekat ke kantor.

Apa daya, ternyata sampai di Jakarta dapat kabar bahwa transjakarta tidak beroperasi, akibat jalur Blok M-Kota terendam banjir. Akhirnya saya memutuskan untuk….jalan kaki ke kantor.

Ayah saya mengantarkan sampai Semanggi, dan saya meyakinkan dia bahwa saya akan mencari ojek untuk ke kantor. Ternyata ojek pun tidak ada yang mau membawa penumpang, karena jalanan sudirman yang sudah tergenang banjir hingga Thamrin.

Saya nekat jalan kaki, dan ternyata tidak jauh juga. Tapi sesampainya di Dukuh Atas, barulah saya sadar perjalanan ini akan sulit untuk diteruskan. Mulai dari Dukuh Atas hingga Sarinah, banjir menggenang hingga sedada orang dewasa.

Saya bingung, mau balik lagi pun tidak bisa mengabari orang kantor dan orang tua karena blackberry saya habis baterai. Saya duduk di tepian jalan Sudirman bersama ratusan orang lain, menunggu sesuatu yang sebenarnya saya juga tidak tahu apa yang ditunggu. Menunggu air surut? Sepertinya tidak mungkin karena hujan pun terus turun meski hanya rintik-rintik.

Perahu karet mulai berdatangan, namun diprioritaskan hanya untuk warga yang bertempat tinggal di Blora dan sekitarnya, yang setengah dari rumahnya sudah terendam akibat tanggul latuharhary jebol. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 lewat, saya mulai bosan duduk diam saja.

Akhirnya, saya nekat menyeberangi banjir. Itupun setelah melihat beberapa orang menyusuri banjir dari trotoar pembatas jalur yang ada di tengah jalan Sudirman, meski sudah tak terlihat karena terendam air. Tapi setidaknya, trotoar ini lebih tinggi daripada jalan raya, sehingga memudahkan kami untuk berjalan.

Dari Tosari hingga ke Bundaran HI, masih mudah berjalan, karena air hanya setinggi betis saya (tinggi saya 168 cm, by the way). Sepanjang jalan saya melihat banyak orang yang sepertinya sudah biasa dengan situasi ini. Ada beberapa anak yang justru asyik berenang dan tertawa, ada juga ibu-ibu kantoran yang sibuk berfoto di bundaran HI.

Jalanan dari Tosari-Bundaran HI

Jalanan dari Tosari-Bundaran HI

perahu karet membantu warga

perahu karet membantu warga

Sampai di Bundaran HI, saya istirahat sebentar. Sempat terpikir untuk mengungsi ke Plaza Indonesia, mencari colokan untuk charger BB sambil makan, tapi saya urungkan karena keuangan menipis (sedih sekali ya ini). 15 menit di Bundaran HI, saya lanjutkan perjalanan.

Ternyata, menuju Sarinah dari Bund HI, air semakin tinggi. Hampir sedada saya, berarti sudah semeter lebih. Sudah kepalang basah, yaudah lah ya saya lanjut saja. Untungnya semakin ramai yang berjalan bersama saya menuju arah Sarinah, sehingga nggak merasa miserable banget lah banjir-banjir basah gini.

sarinah-Thamrin

sarinah-Thamrin

IMG_3590
Setelah berjalan hampir 45 menit dari bundara HI, barulah saya sampai di Bank Indonesia. Tanggung, saya lanjutkan jalan kaki ke kantor yang kira-kira satu kilometer dari Bank Indonesia.

Sesampainya di Kantor, badan saya sudah basah total, apalagi menjelang kantor hujan turun lagi. Total perjalanan saya hampir dua jam dari Semanggi menuju kantor, kebayang kan gimana bentuk kaki saya? :))

Besoknya, ternyata kejadian sama menimpa saya lagi. Keesokan harinya, saya memutuskan untuk naik kereta, meski menurut berita kereta hanya sampai di Stasiun Manggarai saja perjalanannya. Saat tiba di Manggarai, stasiun itu sudah penuh dengan orang-orang yang berebutan ojek dan bajaj menuju kantornya masing-masing. Tukang Ojek dan Bajaj pun mengambil untung dari situasi ini dengan mematok tarif mahal.

Akhirnya, demi menghemat uang dan juga malas berebutan bajaj dan ojek, saya berdua atasan saya memutuskan untuk menyusuri rel kereta dari Stasiun Manggarai hingga Stasiun Gondangdia. Secara teori sih nggak jauh, karena Stasiun Gondangdia hanya berjarak dua stasiun dari Manggarai.

Kenyataannya? butuh waktu hampir dua jam lagi bagi kami berdua untuk sampai di kantor. Ditambah kaki yang sakit karena menyusuri jalanan rel yang berbatu, rasanya hampir sama trekking Manggarai-Gondangdia seperti trekking Sawarna-Legoon Pari :))

Anyway, itulah petualangan saya di Jakarta selama Januari lalu. Benar-benar suatu experience baru yang ditawarkan ibukota yang sangat saya cintai ini. This city never failed to surprise me 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s