The Meaning of Solo Traveling

Perut keroncongan, kepala pusing. Badan juga pegal karena harus duduk selama lebih dari 12 jam di kursi bus sempit yang tidak nyaman, sambil mendengarkan radio bus yang tak henti-hentinya memainkan lagu-lagu keroncong Kamboja. It was pitch black outside and I don’t know where the hell I was…

————

Setahun lalu, tepatnya pada Mei 2012 saya secara impulsif ikut dalam barisan ribuan orang yang menunggu tiket promo AirAsia seharga mulai dari Rp200 ribu untuk tujuan internasional. Secara impulsif dan nggak beralasan, saya beli tiket PP Jakarta-Saigon-Jakarta, untuk penerbangan Februari 2013.

Saya beli tiket sendiri, alias nggak ngajak-ngajak orang. Sesuatu yang aneh sekali, karena saya nggak pernah-pernahnya traveling sendirian. Tapi entah kenapa ketika itu ya memang saya sedang tidak ingin mengajak siapa-siapa, hanya ingin coba pergi ngebolang sendiri.

Sebulan setelah beli tiket, saya mulai rajin googling soal Saigon. What to do, what to expect, and etc. Saya juga mulai memikirkan, tujuan saya traveling sendiri apa ya? Ngapain ya?

Saat itu, jawabannya adalah untuk membuktikan diri. Saya selalu dikenal sebagai “Mutya yang nggak bisa kemana-mana sendiri, penakut, cengeng, dan lain-lain”. Saya pengen prove kalau itu nggak benar! Ya salah satu caranya ini, traveling sendirian.

Dua bulan, tiga bulan setelah pembelian tiket impulsif itu, karena kesibukan kerja saya jadi lupa sendiri kalau ada janji sama AirAsia mau ke Vietnam. Nggak lagi sibuk googling soal Saigon dan sekitarnya, benar-benar lupa aja gitu. Sampai akhirnya menjelang akhir tahun 2012, ketika saya iseng bersih-bersih inbox email.

Saya menemukan email booking tiket ke Saigon itu. Dan agak kaget ternyata penerbangannya Februari, karena seinget saya Mei (baru ngeh ternyata Mei itu belinya, bukan perginya). Baru deh mulai sibuk.

Antara sibuk, panik, dan juga mulai have a second thought about “berani nggak ya gue pergi sendiri?”. Malah saya kepikiran mau jual itu tiket, karena akhir tahun itu keuangan lagi seret-seretnya bangeetttt….. T_____T

Tapi emang pas banget ya, akhir tahun menjelang awal tahun 2013 itu saya lagi galau-galaunya (cieee) dan butuh sweet escape banget. Soal keuangan, ternyata secara nggak sengaja saya pesen tiket keberangkatan ke Saigon itu untuk tanggal 25, tepat tanggal gajian. Jadi paling masalahnya adalah bagaimana bertahan hidup di Jakarta sepulang dari Saigon (ini nulisnya sambil nangis lagi). Saya juga memutuskan untuk pelesir ke Kamboja (Phnom Penh dan Siem Reap) sekalian, jadi empat hari saya nggak cuma dihabiskan di Saigon.

Bodohnya saya, saking impulsifnya saya nggak lihat itu jam keberangkatannya jam berapa. Pesawat berangkat jam 16.35 dari Jakarta dan sampai di Saigon jam 19.30…which is nggak mungkin banget saya nyari hostel malam-malam kan. Mau nggak mau, harus booking online dulu.

Masalahnya, booking online harus pake credit card, sementara saya adalah jurnalis kere yang nggak punya CC :’). Tapi lagi-lagi semesta membantu saya. Dua minggu sebelum keberangkatan, saya ngeliput acara peluncuran situs booking online terbaru di Indonesia, yang berafiliasi sama booking.com. Dari situ saya tahu, ternyata ada beberapa hostel yang bisa di booking tanpa harus pake CC, dan bisa bayar langsung pas kita sampai di hotelnya!

Nyari-nyari, akhirnya dapet hostel tipe dorm yang murah, cuma Rp70 ribu aja. Tapi ternyata lokasinya lumayan jauh dari pusat keramaian, dan nggak dapet breakfast gratis pula (penting banget ini). Akhirnya saya nemu Saigon Youth Hostel, letaknya persis di Pham Ngu Lao street (backpacker area) dan walking distance dari semua tempat wisata. Harganya juga reasonable, Rp80 ribu udah termasuk breakfast. Cara yang sama saya gunakan juga untuk nyari penginapan di Siem Reap, Kamboja. Saya dapet kamar di Chan Lee dormitory, dari peta sih nggak jauh dari pusat kota eh ternyata jauh juga.

Hostel oke, tiket udah oke. Akhirnya the day tiba juga dan saya juga udah ngambil cuti dari kantor. Saya berangkat jam 12.00 WIB dari rumah di Bogor, dengan uang bener-bener pas-pasan. Untungnya orangtua suportif banget. Bukan suportif dengan ngasih duit segala macem, tapi lebih ke mudah memberi izin dan mendoakan supaya selamat di perjalanan 🙂 Ayah saya malah ngingetin untuk bawa popmie banyak-banyak, supaya saya nggak perlu jajan kalau laper jadi pengeluaran nggak membengkak.

Singkat cerita, tepat 19.30 saya sampai di Saigon, Vietnam. Dari petunjuk Lonely Planet yang saya baca, harusnya saya bisa naik bus kota dari bandara ke pusat kota dengan biaya hanya 5000 Dong atau Rp2500 aja. Tapi sayangnya bus cuma beroperasi sampai pukul 18.00, jadi mau nggak mau harus pakai taksi.

Hasil dari ngobrol-ngobrol sama orang Saigon di pesawat, taksi yang reliable dan argonya bener itu Vinasun Taksi dan Mai Lin. Biasanya ke pusat kota itu kena 200 ribu Dong atau Rp100 ribuan aja.

Saigon

Saigon

Keluar bandara, saya langsung belok kiri ke tempat antri taksi. Ternyata bener, ke Pham Ngu Lao street itu 200 ribu Dong, ditambah biaya bandara 70 ribu Dong, jadi totalnya Rp135 ribuan lah. Worth it sih, karena perjalanannya lumayan jauh, 45 menitan dan juga macet.

Pham Ngu Lao street

Pham Ngu Lao street

Sampai di Pham Ngu Lao street, ternyata taksi saya cuma bisa nganterin sampai depan gang, soalnya hostel yang udah saya pilih itu masuk ke gang kecil. Jalan sekira 300 meteran, akhirnya nemu deh, Saigon Youth Hostel.

Saigon Youth Hostel

Hostelnya bersih, nyaman dan staffnya ramah. Pas sampai saya langsung kasih booking print confirmation, trus dia ngasih saya kunci  kamar. Dia juga ngasih saya peta Saigon gratis dan tempat-tempat yang oke untuk dikunjungi. Sekalian saat itu saya pesen tiket bus ke Siem Reap, dengan harga 420 ribu Dong atau Rp210 ribu. Busnya Capitol Tour, yaudah saya terima-terima aja.

Saya langsung ke kamar dan….menemukan kamar saya kosong dan gelap. Saya pilih kamar tipe 4-bed dorm. Pas idupin lampu, keliatan 3 dari 4 tempat tidur udah keisi sama

Saya naik ke bunk saya, dan mulai beberes.

Selagi beberes, tiba-tiba masuklah seorang cewe..she said Hi to me but then we didnt talk at all. Sampai tiba-tiba dia nanya:

“So..where do you come from?”

“Indonesia, Jakarta. You?”

“Well, I’ve been living here for a while, like, three months but actually I’m from UK,”

Wow, UK! Hence the british accent. she then start talking about the city and what my plan for tomorrow. And then masuklah seorang cewe lagi..and she’s from Holland (her name is Maaike). She does seem surprise knowing that saya ternyata dari Indonesia, karena katanya jarang lihat orang Asia traveling sendirian.

They both were really nice to me, and they ask me out for eat and drink. Saya mengiyakan, meskipun tadinya saya kira bakal jalan cari makan sendirian but it’s really nice to have company, right?

So then we eat at a restaurant not far from our hostel. Saya jadinya nggak makan apa-apa, cuma beli minum karena baru inget belum nuker Dong, dan sisa dong saya hampir abis untuk bayar taksi tadi sementara uang lainnya masih dalam bentuk USD.

We eat, drink and talked for like about 2 hours then going back to the hostel. Because Stephanie (the girl from the UK) have to attend a class the next morning at 7 dan saya juga harus naik bus ke Siem Reap jam 7.

Paginya, saya sarapan mi (dapet gratis dari hotel) dan nunggu dijemput orang dari Capitol Tour untuk ke Siem Reap. Dan setelah melihat busnya….well. For Rp200 ribu, the bus wasn’t ok at all. Busnya kayak bus-bus kopaja Jakarta, meski emang ada AC. parahnya, kursi saya ditempatkan di bagian paling belakang bus, pas sebelah toilet. Untung toiletnya nggak bau.

Bus Capitol Tour Saigon-Siem Reap

Bus Capitol Tour Saigon-Siem Reap

Penumpang bus ini kebanyakan orang Kamboja dan Vietnam, meski ada sekelompok abang-abang yang setelah kenalan saya tahu mereka dari Slovakia. Sayangnya mereka heboh sendiri ngeshoot pemandangan dan ngobrol sesamanya pake bahasa Slovakia, jadi saya nggak ada temen ngobrol deh.

Bayangin, perjalanan 6 jam ke ibukota Kamboja, Phnom Penh and all I can do is playing with my bb (yang untungnya masih ada paket BB sampe perbatasan Vietnam-Kamboja) dan juga mainin games di iPod. dan tidur. tiduuur terus..

Setelah enam jam lebih, saya akhirnya sampai di Phnom Penh. Kesan pertama saya, kota ini ruwet banget, agak sumpek. Saya harus ganti bus lagi yang lanjut ke Siem Reap, karena bus ini cuma sampai Phnom Penh aja.

Setelah nunggu kira-kira 1 jam, tepatnya jam 14.30 saya naik bus ke Siem Reap. Kali ini saya duduk di kursi baris ke-5, jadi agak ke depan. Samping saya duduk cewek Kamboja yang dengan baik hati nawarin kue buatannya, semacam bolu pandan. Dan SEMUA penumpang bus ini warga lokal, nggak ada turisnya. Dan nggak ada yang bisa bahasa Inggris.

Jadi itulah, selama 6 jam lebih dengan jalanan yang rada ajrut-ajrutan saya harus nahan diri duduk di kursi sempitnya bus Capitol Tour itu. Parahnya lagi, batre bb dan iPod saya udah mati. Selamet nggak tuh…

Lebih dari 6 jam, kira-kira jam 21.00 saya heran kok belum sampe-sampe juga di Siem Reap. Sempet takut salah naik bus, apalagi saya nggak bisa lihat apa-apa di jendela, semuanya gelap! Saya udah khawatir orangtua saya di Jakarta heboh karena 10 jam lebih nggak ada kabar dari saya.

Akhirnya jam 10 saya sampai di Siem Reap. Kota kecil yang ramai, tapi ramainya cuma di Angkor Wat dan sekitar Pub Street. Dengan tuk-tuk, saya diantar ke hostel cuma bayar 2$. Ohiya, dollar itu mata uang utama di Siem Reap, jadi nggak perlu repot-repot tukerin uang ke Riel.

Tadinya, saya mau ke Angkor Wat pagi-paginya. Tapi ternyata eh ternyata, Angkor Wat itu mahal banget! masuknya aja 20$, belum pakai tuk-tuknya bisa 10$, sementara uang saya udah menipis banget. (salah strategi, i know..). Akhirnya saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di Siem Reap dengan menjelajahi Night Market dan Pub Street aja.

Pub Street

Pub Street

Sebelum ke Night Market, saya pesan tiket balik ke Saigon ke pemilik hostel tempat saya menginap. Saya minta mereka pesenin bus Mekong Express, karena saya dengar bus itu paling bagus, meski harganya lebih mahal (cuma beda 3$). Mereka menyanggupi, dan katanya besok jam 7.00 pagi saya akan dijemput pihak Mekong Express. See, betapa bentarnya waktu saya di Siem Reap, abis di jalan doang..

But I’m not complaining. Night marketnya Siem Reap bener-bener oke, saya dapet barang-barang bagus untuk oleh-oleh disitu. Harga Snowglobe yang biasanya di Singapura bisa Rp200 ribu, di Siem Reap cuma Rp20 ribu aja! (tentunya pakai nawar). Tapi saya nggak belanja banyak, karena uang saya benar-benar menipis. Saya harus menyisakan uang 24$ untuk tiket bus, 5$ untuk bayar hostel Siem Reap, dan 8$ untuk bayar hotel di Saigon. Sementara masih banyak oleh-oleh yang belum saya belikan.

Long story short, besoknya saya dijemput jam 7.00 sama Mekong Express. Busnya bagus! Isinya turis Amerika & Jepang semua. Kita juga dapet free breakfast dan free lunch dan lebih okenya lagi busnya ada wifi, jadi saya nggak perlu takut bosan.

Mekong Express Bus

Mekong Express Bus

Lunch gratis dari Mekong Express

Lunch gratis dari Mekong Express

Perjalanan dengan Mekong Express ini asik, memang memakan waktu sekitar 12 jam lebih tapi setidaknya nggak ngetem dan berhenti-berhenti kayak bus sebelumnya. Busnya punya pramugara yang menunjukkan tempat-tempat wisata yang kita lewatin. Dari bus ini, Phnom Penh yang tadinya saya lihat ruwet ternyata beda banget! Ibukota Kamboja ini kelihatan lebih rapih, lebih bersih.

Independence Monument, Phnom Penh

Independence Monument, Phnom Penh

Ferry crossing Mekong River to Phnom Penh

Ferry crossing Mekong River to Phnom Penh

Pukul 20.00, saya tiba di Saigon dan langsung ke Saigon Youth Hostel (lagi). Saya ditempatkan di kamar yang sama kayak kemarin, dan ketemu lagi dengan Stephanie dan Maaike. Ngelyat muka saya yang capek, mereka langsung menawarkan untuk nemenin makan dan jalan-jalan sekitar Pham Ngu Lao malam itu. That was very nice of them! Padahal saya tahu mereka pagi-pagi besok harus beraktivitas, tapi tetep maksa mau nemenin karena nggak tega membiarkan saya jalan-jalan sendiri :’)

So then we walked around the blok, melihat keramaian, toko-toko yang menarik. Malam itu saya nggak makan, (demi hemat) dan setelah pulang jalan-jalan saya masak popmie deh buat dimakan di lobby hotel 😀

Besok paginya, hari terakhir saya di Saigon. Untungnya pesawat saya berangkat 20.20, jadi masih ada waktu seharian di Saigon. Saya bangun menjelang pukul setengah 8, karena capeee banget. Stephanie udah berangkat kerja, dan Maaike baru selesai mandi. Dia ngajak saya sarapan bareng di bawah.

Selagi sarapan, kita tukeran email dan facebook. I invite her to Jakarta, and she said she’d love to come over, maybe next year. Jam 08.00, Maaike dijemput agent tour untuk berangkat ke Chu Chi Tunnel, and it was the last time I saw her.

Saya balik ke kamar, beres-beres. Jam 10 saya check out, tapi pihak hostel membolehkan saya menitipkan carrier selagi saya jalan-jalan keliling kota. Saya bahkan boleh membayar nanti sepulang jalan-jalan.

Tujuan pertama saya Ben Thanh market, cari oleh-oleh. Untungnya, ayah saya mendadak kirim uang karena nitip beliin kado untuk si bunda. Jadi lah saya ada uang tambahan, lumayan buat makan pho, yay! Saya makan di Pho president, katanya dulu Bill Clinton juga pernah makan disitu. Enak, murah lagi.

Pho President

Pho President

Ben Thanh market was okay, tapi harus nawar bener-bener deh. Saya memutuskan nggak belanja dulu, dan memilih jalan-jalan keliling kota. Tempat yang saya kunjungi itu War Remnant Museum, Independent Palace, Cathedral Notre Dame dan Central Post Office serta Opera. Tapi saya cuma masuk ke Central Post Office, soalnya yang gratis cuma itu :’))

Central Post Office

Central Post Office

Catherdral Notre Dame, Saigon

Catherdral Notre Dame, Saigon

Semuanya saya lakukan dengan jalan kaki,lagi-lagi demi menghemat. Untungnya Saigon itu sejuk, jadi it was a pleasant walk. Pukul 15.00 saya balik ke Ben Thanh market, berburu oleh-oleh. Kali ini saya tega-tegain deh nawar biar dapet murah. And I did it! 😀

Sekitar pukul 16.00, saya balik ke hostel, ngambil carrier. Chit-chat sebentar dengan staff hotel, dan saya bilang “I had a pleasant time staying here” dan mereka seneng banget. Mereka ngasih tahu tempat pemberhentian bus yang langsung ke bandara, yang tadi saya bilang. Mereka juga nyaranin saya beli makanan dulu, biar nggak kelaperan nunggu pesawat. (saat itu sisa uang di kantong 60ribu dong).

Di bandara saya kenalan lagi sama dua cowok Swedia (yang masyaallah gantengnya!). Mereka cerita seru soal petualangan mereka keliling Vietnam selama sebulan, plus nunjukkin foto-foto yang keren. Sayangnyaaaa……kita nggak tukeran email. I don’t even ask their name! How stupid deh Mutya.

So that is it! My first solo trip. Kalau ada yang tanya, apa yang saya dapat dari trip ini, apa saya berhasil melakukan pembuktian diri? Saya justru dapet hal yang berbeda. Solo traveling for me eventually is not about proving ourself to others, also not to ‘found’ jati diri or some shit like that. Sehabis doing Solo Traveling ini, saya bukannya jadi pengen bragging about how cool I am doing trip to a foreign country all by myself. Solo traveling kemaren adalah saat dimana saya menjadi bukan saya. Bukan Mutya yang pemalu,nggak pede ngobrol sama orang. Saya jadi Mutya yang suka sksd, Mutya yang hobi chit-chat. Mungkin kalau ketika itu saya nggak traveling sendiri, tapi sama orang yang saya kenal, saya nggak akan mungkin kenal sama Stephanie & Maaike, dan juga sama dua cowok Swedia yang ganteng-ganteng itu. Saat kita bersama orang yang sudah kita kenal, terkadang diri kita terkungkung label yang telah mereka buat pada kita sebelumnya.

Sepulangnya, saya ketagihan. Saya pengen solo trip lagi, pengen ‘keluar’ lagi dari diri saya yang sekarang. Saya yakin setiap orang pasti memiliki saat-saat dimana mereka sejenak ingin merasakan bagaimana jadi orang lain, yang completely new and different. Dan menurut saya traveling sendirian adalah salah satu caranya. 🙂

*PS: ada yang tanya, saya kesepian nggak jalan-jalan sendirian, apalagi sendirian di bus, nggak ada yang diajak ngobrol selama 12 jam lebih? Jawabannya…kesepian sih. Tapi ketika pulang saya nemuin hal lain yang lebih bikin “sepi”. Loneliness is not the state where you’re in physically alone, It’s when you’re surrounded by people you know and yet you still all alone. Kesepian sebenarnya adalah ketika sampai di Cengkareng, saya hidupkan bb dan tidak ada pesan apapun. No “welcome home” ataupun balasan “safe flight ya!” atas tweet saya 3 jam sebelumnya yang mengabarkan kalau saya sudah boarding ke pesawat menuju Jakarta 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s