Sebuah Kontemplasi yang Sok Tahu

Backpacker itu apa? Traveling light? Traveling cheap? Or, hence the name, traveling pake backpack? Adakah satu “standar” dimana orang baru bisa dibilang backpacker, yang kalau lain dari itu maka dia bukan backpacker?

———-

Beberapa hari lalu, saya mengikuti sebuah peluncuran buku traveling oleh anggota komunitas travel yang rasanya tidak perlu saya sebutkan namanya disini. Selama acara, dan sepulangnya, saya merasa berada di dunia yang benar-benar lain dari apa yang saya kenal sebelumnya.

Apa yang aneh? bukan dari anggota milis yang menyebut diri sebagai backpacker tersebut yang hampir semua anggotanya adalah ibu-ibu kaya berumur 30-40 tahun ke atas, meski saya sempet kaget juga karena biasanya ketemu komunitas backpacker kebanyakan isinya anak muda. Bukan juga tas-tas bermerek yang mereka jinjing saat itu.

Yang aneh adalah betapa mereka membanggakan hidup sebagai backpacker, dan menganggap rendah orang yang tidak pernah backpackeran. Menurut mereka, backpacker itu wajib hukumnya apa-apa sendiri, dan haram memakai agen wisata. Backpacker itu go to the road less travelled saja, anti ke tempat-tempat yang banyak turis.

Saya bingung, mau kritik pun bingung. Siapa gue? traveling juga jarang, seringnya traveling dari dunia maya aja. Tapi saya gak bisa bohong kalau saya sedikit ‘terganggu’ dengan statement mereka dan frankly, saya takut kalau nanti sudah tua saya seperti mereka 😐

Kayanya saya pernah bahas ini deh, tapi saya lupa-lupa inget. Saat ini, dan mudah-mudahan seterusnya, saya nggak punya prinsip traveling yang saklek banget. Karena menurut saya ketika seseorang punya prinsip yang saklek, dia tends to ngerendahin orang-orang yang nggak menganut prinsip yang sama.

Buat saya, traveling, seperti asal katanya, travel, ya artinya pergi. nggak perlu cara perginya bagaimana, mau cara tajir kek mau cara kere kek. Pokoknya pergi. Dari kantor ke Taman Lembang yang ada deket kantor saya aja saya bilangnya traveling.

Maksudnya, saya nggak mau jadi orang-orang yang menganggap orang yang traveling ke singapura itu basi banget, karena udah biasa. Atau menganggap keliling Ho Chi Minh City pakai agen tur itu payah, karena harusnya bisa sendiri aja. To travel is to go, there’s no boundaries to do so.

Traveling buat saya bukan berarti to go to the road less travelled, yang nggak pernah didatangi turis. But to go to break your own boundaries. Saya yakin setiap orang punya ‘batas’ yang dia set up buat dirinya sendiri. Dan ketika dia berhasil mendobrak batas itu, then he/she has travelled to the road less travelled πŸ™‚

PS: Kalau orang lihat saya traveling murah, asli deh itu bukan karena sengaja tapi emang by conditionnya begitu. Saya orangnya paling susah nabung, jadi susah banget jalan-jalan enak, kecuali ada yang ngundang (dear maskapai, hotel, kemenparekraf, tourism board, undang saya lagi doooong! πŸ˜€ ). Padahal kalau boleh milih, ya pengennya jalan-jalan enak tanpa harus mikirin bujet deh πŸ˜€

Advertisements

One thought on “Sebuah Kontemplasi yang Sok Tahu

  1. Menarik sekali. Aku juga tidak suka orang yang make a big deal about what sort of luggage you use (backpack besar/kecil, koper), which places you visit (ramai/sepi) and how long you travel for! Setiap orang akan travel in their own way dan that is OK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s