Berjodoh dengan Bromo

“Jadi wartawan itu kenal banyak orang tapi sayangnya nggak kenal hari libur nasional”– demikian bunyi tweet dari akun @robetbet. Benar sekali, yang namanya wartawan, apalagi wartawan online itu jarang sekali dapat libur. Meski tanggal merah sekalipun kami tetap masuk. Tapi tentunya, beberapa orang punya sejumput keberuntungan atau mungkin takdir untuk bisa merasakan hari libur ini..

——–

Awal Maret lalu, teman saya bilang kalau dia dan teman-teman kantornya akan pergi ke Bromo di akhir Maret, tepatnya tanggal 29 Maret 2013, saat libur paskah yang jatuh di hari jumat (long weekend). Saya pengen banget ikut, tapi sayangnya, hari itu bukan jatah libur saya..

Di media online tempat saya bekerja, hari libur tanggal merah diberlakukan bergiliran untuk setiap tim. Giliran saya adalah pada 12 Maret 2013, ketika perayaan Nyepi. Otomatis, 29 Maret 2013 bukan lagi jadi jatah libur saja, apalagi hari sabtu/minggunya saya harus piket weekend di kantor.

Saya cukup kecewa karena tidak bisa ikut ke Bromo. Sebenarnya ke Bromo bisa kapan saja, tapi saya bingung mau ajak siapa. Teman-teman kantor pun mau sebenarnya diajak ke Bromo, tapi sayang jadwal libur kami berbenturan. Akhirnya, saya mengikhlaskan dan berharap suatu saat nanti saya bisa mengunjungi salah satu gunung berapi terpopuler di Indonesia itu. Mungkin memang belum jodohnya saya ke Bromo..

Entah beruntung atau apa, tiba-tiba saya mendapat tugas liputan ke Malang pada 28-29 Maret 2013. Sontak saya langsung menghubungi teman saya untuk mengabarkan bahwa saya ikut ke Bromo. Karena harus kerja di salah satu hari di akhir pekan, saya memilih untuk extend sehari di Malang sampai sabtu, kemudian pulang ke Jakarta dengan kereta pada sabtu Malam. Sampai di Jakarta minggu subuh, dan siap bekerja kembali ke kantor. Untungnya, bos saya dengan baik memberi izin untuk menambah hari di Malang.

Kamis pagi, kami berangkat ke Malang untuk liputan pembukaan hotel. Teman saya yang berencana mau ke Bromo baru akan sampai di Malang hari jumatnya, tepat setelah saya selesai liputan.

Liputan kali ini pun cukup menyenangkan, pembukaan sebuah hotel di ujung kota Malang yang sejuk. Hotelnya bagus, acaranya menarik, dan teman-teman media yang ikut liputan pun seru.

Saya bersama teman-teman dari media lain menyempatkan untuk mengunjungi Kota Batu, yang berada tak jauh dari Kota Malang. Kota Batu yang dingin memang tengah menjadi destinasi wisata populer di Jawa Timur, terutama dengan Jatim Park dan Batu Night Spectaculer (BNS).

Batu Night Specatular (BNS)

Batu Night Specatular (BNS)

Karena hari sudah malam, kami hanya sempat mengunjungi BNS. Tempatnya cukup menarik, meski ternyata tidak sebesar yang saya kira. Dengan lampion-lampion cantik yang temaram, tak heran BNS menjadi tempat favorit muda-mudi Malang dan sekitarnya.

BNS's Lampion Garden

BNS’s Lampion Garden

Selepas BNS, kami memutuskan untuk mencoba cemilan setempat yang terkenal, yaitu Ketan. Pilihan jatuh pada Ketan Legenda, yang katanya sudah berdiri sejak 1967. Sepertinya Ketan ini memang “legenda” karena super ramai! Bahkan kami harus menggunakan nomor antrian untuk mendapatkan ketan pesanan.

Ketan Legenda, Batu

Ketan Legenda, Batu

Saking ramainya, untuk memakan ketan seharga Rp3000-Rp5000 kami harus menunggu selama satu jam lebih. It’s worth it though, karena ketannya sedap! Cocok sekali dengan udara Batu yang sejuk.

Keesokan paginya (Jumat, 29/3) adalah hari terakhir liputan. Pihak hotel membawa kami berkeliling kota Malang, mulai dari Kelenteng Eng Ang Kiong, Toko Oen yang antik hingga pusat oleh-oleh.

Kelenteng Eng Ang Kiong, Malang

Kelenteng Eng Ang Kiong, Malang

Tapi yang paling menarik hati saya adalah Restoran Inggil, yang berada di dekat Tugu Malang.

Inggil Restaurant

Inggil Restaurant

Restoran sekaligus museum ini memiliki suasana antik, dengan pameran benda-benda kunonya. Mulai dari poster-poster bir kuno, pengeriting rambut jaman Belanda, topeng-topeng khas Jawa hingga gamelan antik bisa Anda lihat disini, selagi menyantap masakan khas Jawanya yang sedap.

Foods at Inggil's Restaurant

Foods at Inggil’s Restaurant

interior Inggil Restaurant

interior Inggil Restaurant

Foods at Inggil's Restaurant

Foods at Inggil’s Restaurant

Antique Beer advetorial in Inggil Restaurant

Antique Beer advetorial in Inggil Restaurant

Setelah restoran Inggil, teman-teman wartawan yang lain kembali ke Surabaya untuk terbang ke Jakarta. Saya pun berpisah dari mereka untuk menunggu teman saya yang ingin ke Bromo. Karena waktu masih menunjukkan pukul 12.25, sementara saya janjian pukul 15.00, saya pun menunggu sambil mengetik berita di sebuah lobby hotel di dekat alun-alun Malang.

Hotel itu bernama Hotel Riche. Hotelnya sederhana, namun bersih. Tarif per malamnya pun ternyata murah, yang paling mahal hanya Rp300 ribu padahal lokasinya di pusat kota. Hotel ini menyediakan fasilitas wifi gratis (padahal saya tidak menginap disana, tapi diizinkan pakai wifi) dan koneksinya pun cukup cepat.

Waktu berlalu, pukul 16.00 teman-teman saya tiba dan kami memutuskan untuk mencoba ice cream di Toko Oen. Toko Oen ini toko tempo doloe, peninggalan Belanda sejak 1930. Spesialisasinya adalah roti dan ice cream, dengan interior antik yang cantik.

Toko Oen, Malang

Toko Oen, Malang

Rasa ice creamnya? Cukup enak, meski tidak top notch. Tapi suasana tempatnya asik untuk menghabiskan sore di Kota Malang.

Sehabis makan di Oen, kami pun berjalan ke alun-alun Malang. Ternyata alun-alun kota ini di malam hari berubah menjadi pasar malam, seperti Monas di malam hari. Saya bahkan melihat ada penjual kerak telor di sana.

It’s Bromo Time!

Untuk ke Bromo, kami akan mencapai kota terdekat dari gunung tersebut yaitu Probolinggo. Dari Malang ke Probolinggo kira-kira dua jam dengan kendaraan pribadi, kemudian dilanjutkan lagi perjalan selama satu jam ke Cemoro Lawang, tempat kami menyewa jeep. Kami berangkat pukul 23.00 dari Malang, dan tiba di Cemoro Lawang sekira 02.30.

Jeep bisa disewa dengan harga Rp600 ribu-Rp700 ribu, tergantung keahlian menawar. Untungnya saya pergi sama AE-AE (Account Executive) yang emang jagonya nego harga, jadi kami dapat best price untuk jeep ini.

Pukul 04.00, kami sudah diatas Jeep yang akan mengantarkan ke Pananjakan 2, tempat untuk melihat matahari terbit. Hanya 15-20 menit saja dari Cemoro Lawang ke Pananjakan 2, melewati jalan berbatu yang hanya bisa dilalui motor, kuda atau mobil 4-wheel drive.

Sesampainya di Pananjakan, ternyata masih harus berjalan kaki lagi untuk sampai ke atas, tempat terbaik melihat sunrise. Baru berjalan beberapa meter saja saya sudah semaput…dan akhirnya kami memutuskan untuk naik kuda dengan tarif Rp50 ribu sampai ke atas.

It was really crowded, no wonder karena emang lagi libur long weekend kali ya. Its really hard for us to find the best place to see the sunrise, but we eventually did. The sunrise was really awesome, but too bad I didnt get ani good pictures of me. Bummer.

Bromo's sunrise

Bromo’s sunrise

Bromo's sunrise

Bromo’s sunrise

Bromo, and Mahameru, the highest mountain Java

Bromo, and Mahameru, the highest mountain Java

Its packed in the peak, but we do enjoy the sunrise

Its packed in the peak, but we do enjoy the sunrise

Kuda untuk naik ke puncak Pananjakan, Rp50 ribu sekali jalan

Kuda untuk naik ke puncak Pananjakan, Rp50 ribu sekali jalan

Its crowded in Bromo

Its crowded in Bromo

Setelah sunrise, kita turun lagi ke bawah, naik jeep lagi ke tempat selanjutnya yaitu pasir berbisik (kawah) dan savana. We take some pictures, and then heading back to cemoro Lawang at 8. Siangnya, sekitar jam 13.00 kita sudah di Malang lagi.

Pasir Berbisik (Bromo's crater)

Pasir Berbisik (Bromo’s crater)

Pasir berbisik

Pasir berbisik

This is the Savana. Please mind the face :p

This is the Savana. Please mind the face :p

Sesampainya di Malang, saya harus prepare lagi untuk ke Surabaya, karena saya naik kreta dari sana. Saya tadinya mau naik bis jam 16.00, tapi akhirnya dipesankan travel jam 15.00. Untung saja, karena jalanan Malang-Surabaya super macet! Saya nyaris telat, dan baru tiba di stasiun Surabaya Pasar Turi pukul 20.00, sementara kereta saya berangkat pukul 20.10. That was reaallly close! Saya nggak kebayang gimana kalau ketinggalan kereta, karena hari Minggunya saya harus masuk kerja.

Perjalanan kereta cukup lancar, sepanjang jalan saya tidur karena capek. Bangun-bangun sudah di Jatinegara dan saya pun beruntung bisa langsung turun di Gondangdia, tidak perlu sampai ke gambir jadi tinggal jalan ke kantor. Pukul 06.30, saya sudah duduk di meja kantor, siap kerja πŸ˜€

————————————————-

Banyak yang bilang, perjalanan saya ini perjalanan maksa. Ada juga yang bilang saya lucky bastard, bisa-bisanya pas banget dapet liputan ke Malang di waktu yang sama temen saya mau ke Bromo. Buat saya, ini bukan maksa atau sekedar beruntung. Bagi saya ini artinya…sudah memang jodohnya saya ke Bromo waktu itu.. πŸ™‚ Saya jadi percaya, if its meant to be, its meant to be. Kalau emang udah jodohnya, apapun yang terjadi, apapun halangannya pasti akan kesampaian! Keep that in mind πŸ˜‰

Advertisements

One thought on “Berjodoh dengan Bromo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s