I Never Thought I’d Like This City, But…

Malaysia tak pernah jadi destinasi yang ingin saya kunjungi. Pengalaman buruk berkunjung ke Kuala Lumpur saat kecil dulu membuat saya kapok untuk datang ke Negeri Jiran ini. Namun semuanya berubah, saat saya melihat Kuching.

Awal April lalu saya mendapat tugas untuk meliput ekspedisi Women Across Borneo. Ekspedisi ini adalah petualangan tujuh wanita bukan petualang profesional yang bersepeda dari Pontianak menuju Kuching, kemudian lanjut caving di Serawak dan mencapai puncak Gunung Kinabalu di Sabah.

Saya hanya bertugas meliput etape pertama mereka, yaitu bersepeda dari Pontianak hingga Kuching. Disinilah saya mendapat kesempatan untuk memasuki Malaysia melalui jalur darat.

Untuk ke Malaysia melalui Kalimantan Barat, terlebih dahulu kita harus mencapai Entikong, desa perbatasan Malaysia-Indonesia. Entikong adalah sebuah desa kecil yang kehidupannya bergantung pada buka-tutupnya pintu perbatasan. Pintu perbatasan sendiri tidak buka 24 jam, hanya buka dari pukul 06.00-18.00 WIB.

Dari Entikong, melewati pos perbatasan dan masuklah kita ke Tebedu, kota perbatasan yang berada di wilayah Malaysia. Memasuki Tebedu, kami menempuh jarak sejauh 80 kilometer untuk mencapai Kuching, melewati perbukitan hijau yang indah dan jalanan berliuk tinggi.

Tebedu, Malaysia

Hanya perlu dua jam saja untuk mencapai Kuching dari Tebedu. Saat memasuki Kuching, kesan pertama saya adalah sebuah kota kecil, mirip seperi Malaka namun lebih moderen karena banyak gedung tingginya.

Kami pun tiba di Pinnacles Kuching Lodge, hostel nyaman tempat rombongan kami menginap. Pemilik hostel, ibu Hamidah, dengan ramah menjelaskan kepada saya tempat-tempat yang harus dikunjungi di Kuching.

“Kuching is a small town, it’s easy to get around!,” katanya. Kebetulan pula, hostel ini letaknya strategis, tepat di pusat kota.

Setelah merapihkan barang, saya bersama dua teman media lainnya pun bergegas keluar hostel. Tujuan kami adalah waterfront, yang katanya tempat terbaik untuk melihat sunset di Kuching.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 17.00, dimana waktu di Kuching satu jam lebih cepat dibanding Jakarta. Langit sudah mulai menguning, berjalanlah kami ke waterfront. Ternyata waterfront hanya berjarak sekira 500 meter saja dari tempat kami menginap.

Saat berjalan, kami sering kali berpapasan dengan warga asing kaukasoid. Mulanya saya kira mereka turis, tapi ternyata memang Kuching ini banyak dihuni oleh ekspatriat pengusaha perkebunan.

Apa yang saya lihat di waterfront selanjutnya menjadi alasan saya jatuh cinta dengan kota ini. Perpaduan langit dengan warna lukisan Tuhan serta suasana waterfront yang sejuk benar-benar luar biasa.

“Langitnya instagram banget!,” kata teman saya. Kami pun sibuk memotret suasana sekitar waterfront, tak rela membiarkan pemandangan indah ini lenyap begitu saja tanpa diabadikan.

IMG_0010

Sunset in waterfront

Waterfront adalah sebuah area promenade tepi sungai yang berada di pusat kota Kuching. Promenade ini digunakan oleh warga setempat dan turis untuk berjalan-jalan, berolahraga atau sekadar duduk-duduk saja. Di sekelilingnya terdapat beberapa kios jajanan dan juga suvenir.

Suvenir di waterfront

Kami berada di waterfront hingga langit gelap. Ternyata, semakin malam, Kuching menjadi semakin cantik. Lampu-lampu jalanan di pinggir promenade waterfront terlihat seperti lentera berwarna-warni yang mengapung. Suasana waterfront saat itu tak terlalu ramai, entah karena bukan akhir pekan atau memang seperti itu adanya. Tak bosan juga saya memotret cantiknya lampu-lampu kota di tempat ini, yang menurut saya adalah salah satu yang terindah yang pernah saya lihat.

Waterfront at night

Kami beranjak dari waterfront dan pergi makan malam di warung pinggir jalan dekat hostel. Warung ini bernama D’Monas, dan saya memesan makanan bernama Mee Kolok yang katanya adalah makanan khas kota ini. Mee Kolok sendiri sebenarnya seperti mi ayam, namun dengan tekstur mi yang lebih tipis.

Yang mengejutkan, penjual Mee Kolok ini ternyata adalah jejaka Bandung. “Mbak dari Indon ya? Saya dari Bandung,” katanya dengan logat pasundan yang kental. “Disini mah, banyak orang Bandung,” lanjutnya.

Besoknya, saya dan rombongan mengikuti city tour dengan bersepeda, keliling Kuching. Kontur Kota Kuching itu bergelombang, banyak jalanan menanjak dan menurun. Namun dimana-mana terlihat sangat bersih dan rapih, nyaman sekali. Saya rasa foto-foto berikut ini bisa menjelaskan lebih baik daripada kata-kata.

IMG_0214 IMG_0088 IMG_0091 IMG_0105 IMG_0123 IMG_0138 IMG_0149 IMG_0152 IMG_0164 IMG_0169 IMG_0212Saya adalah pencinta kota, saya suka dengan lampu malam kota dan keramaiannya. Kuching tak pernah ada dalam bucket list kota di dunia yang ingin saya kunjungi sebelumnya. Sekarang, saya bisa melihat suatu saat nanti saya akan menghabiskan waktu lama di kota ini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s