On Becoming a Journalist

Beberapa pekan lalu, ada teman saya yang bertanya. “Kenapa masih mau jadi wartawan sih mut? Gaji nggak seberapa. Ya emang sih, lo bisa traveling gratis. Tapi kalau lo cari kerja di bidang lain, lo bisa lebih santai. Sabtu-minggu-tanggal merah libur, gaji lebih besar. Lo bisa nabung, dan uangnya bisa biayain lo traveling juga kan?”

Waktu itu, saya hanya tersenyum mendengarnya. Bukan berarti hal itu nggak pernah terlintas juga di pikiran saya. Tapi…

Memang akhir-akhir ini saya sering mengeluhkan ke teman-teman mengenai masa depan saya di bidang kuli tinta ini. To be honest, salarynya masih ya gitu deh. Yang paling saya khawatirkan adalah saya sudah hampir dua tahun bekerja, usia juga sudah mau 24. Tapi belum bisa menabung. Saya iri dengan teman-teman yang mulai bisa nabung untuk cicil DP rumah, apalagi harga rumah itu setiap tahun bisa naik sampai 10 juta!

Saya pernah baca (lupa dimana). Katanya kalau mau kaya raya ya jangan jadi wartawan. Sampai kapanpun wartawan gajinya ya akan segitu. Untuk penghidupan yang cukup, bukan lebih. Kalau mau kaya raya, jadi pengusaha saja.

Dan saya (sampai tulisan ini diketik) masih memutuskan untuk tetap jadi wartawan saja.

Ada terlalu banyak alasan saya untuk bertahan di sini dibanding alasan saya untuk meninggalkannya. Yes, the salary is not good. Yes, liburnya lebih sedikit dibanding orang lain. Tapi…

Pengalaman yang didapat itu luar biasa. I mean, saya yakin setiap pekerjaan pasti ada manfaatnya, pasti memberikan pengalaman yang berbeda. Tapi yang saya dapat selama hampir dua tahun jadi jurnalis ini benar-benar hampir sama dengan apa yang saya impikan.

Bukan hanya tentang “traveling gratis, dibayarin pula!”. Tapi bagaimana mendapat pengalaman perjalanan berbeda yang mungkin tidak semua orang bisa merasakannya. Seperti April lalu, saat saya, beberapa rekan wartawan dan tujuh orang wanita berpetualang dari Pontianak, masuk ke Malaysia melalui jalur darat. Kalau saya pergi sendiri, belum tentu saya mau lewat jalan itu.

Atau waktu tahun lalu, saat ikut acara Sail Morotai di Maluku Utara. Saya beruntung sekali dapat kesempatan ke salah satu pulau terluar di Indonesia, yang dulunya bekas pendaratan tentara Amerika Serikat saat Perang Dunia II. Kalau bukan karena liputan, sepertinya tidak akan mungkin saya kesana.

Belum lagi apa yang saya lakukan di pekerjaan ini: menulis. Saat menulis, rasanya jari-jari ini terbang ke tempat lain. Imajinasi membuka, tangan seakan jadi perpanjangan kaki untuk melangkah melihat dunia. For me, writing is liberating. Saat-saat menulis adalah saat ketika saya merasa memiliki kuasa akan sesuatu, and for a moment its like i own this world.

Saya percaya, uang bisa membawa kita kemana saja. Tapi tentunya harus dibarengi dengan kemauan. Belum lagi ditambah kebutuhan-kebutuhan. Semakin banyak uang akan semakin banyak pula yang harus dibayar. Tagihan listrik, cicilan rumah, dll, dsb, dst.

Jadi itulah, alasan saya bertahan menjadi jurnalis. Saya percaya with passion then comes money. And at least inspite of everything, it makes me happy.

Dan di dunia yang katanya ruwet sekarang ini, kebahagiaan itu kabarnya semakin sulit dicari. Saya beruntung menemukannya 🙂

Advertisements

2 thoughts on “On Becoming a Journalist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s