Mencari Sriwedari

Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara
Setapak di taman sriwedari
Setapak sriwedari denganmu

(Setapak Sriwedari – Maliq & D’essentials)

Saya lagi jatuh cinta banget sama lagu ini. Padahal, sebelumnya saya nggak pernah dengerin lagu-lagunya Maliq, kecuali kalau temen-temen lagi nyanyiin di karaoke. Tapi sejak pertama kali dengar lagu Sriwedari ini, saya langsung jatuh hati (dan bukan, bukan karena lagu ini ada makna sesuatu ke seseorang, bukan! :)) ) dan jadi suka lagu-lagu Angga & kawan-kawan lainnya.

Anyway, menurut yang saya baca Sriwedari itu artinya Taman Surga. Saya tambah suka dengan lagu ini, rasanya ‘Indonesia’ banget. Taman Sriwedari pun sungguhan ada di Solo, sebuah taman yang katanya indah bak surga.

Sayang saya belum jodoh ke Solo, tapi justru ke Yogyakarta, untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Ingin menikmati suasana Yogyakarta sendirian, Saya pun datang lebih awal ke kota ini dari teman-teman.

Seperti biasa, beberapa hari sebelum berangkat saya mulai meneliti peta Yogyakarta dari google maps, mencari tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi dan mengira-ngira berapa jauh jarak yang akan saya tempuh. Sampai saya menemukan ini di peta digital tersebut:

sriwedariJalan Sriwedari! Saya nggak pernah tahu bahwa di Yogyakarta ada si jalan taman surga. Saya tambah semangat ingin ke Yogyakarta, dengan tujuan pertama mengunjungi Sriwedari. Apalagi ternyata jaraknya tak jauh dari Malioboro, jadi seharusnya tidak sulit untuk dicapai. Saya pun penasaran, apakah Jalan Sriwedari ini sama cantiknya seperti Taman Sriwedari di Solo?

Jumat, 1 November 2013 adalah hari keberangkatan saya ke Yogyakarta. Dengan Taksaka Pagi, pukul 08.30 saya sudah melesat dari Gambir menuju Stasiun Tugu. Delapan jam kemudian tibalah saya di stasiun tersebut.

Tak memperdulikan perut yang kelaparan karena tidak makan siang di kereta, saya langsung berjalan kaki ke Malioboro, ke arah Sriwedari. Hanya berbekal google maps yang ada di ponsel, saya menyusuri pertokoan pusat kota Yogyakarta ini, mencari-cari gang menuju Sriwedari.

Saya memasuki satu gang di sebelah Pasar Beringharjo, yang saya yakini menuju Jalan Sriwedari. Tapi ternyata itu hanyalah gang kecil tak bernama (atau ada namanya tapi saya nggak lihat). Saya berbelok ke kanan, mengikuti petunjuk dari GPS di ponsel. Nihil. Tak ada Jalan Sriwedari, yang saya temui adalah Jalan Pabringan.

Saya mencoba berjalan kaki lagi, kali ini mengambil arah lain, bukan dari Malioboro. Saya ke Jl Mayor Suryotomo, sekira dua blok dari Malioboro. Mengikuti petunjuk GPS dan melihat-lihat toko sekitar, nihil. Tetap Sriwedari tidak saya temukan.

Belum putus asa, saya coba masuk lagi ke gang-gang dekat Jalan Pabringan yang ternyata menyambung ke Taman Budaya Yogyakarta. GPS menunjukkan bahwa saya sudah tiba di Sriwedari. Tapi kok….

Plang jalan yang saya lihat bukan bertuliskan Sriwedari, tapi SriwedaNI. Tak percaya, saya berpikir mungkin Jalan Sriwedani ini hanyalah nama jalan lain yang berdekatan dengan Sriwedari.

Waktu itu, langit sudah mulai gelap, sudah hampir Maghrib. Saya duduk di depan Taman Budaya, dan kemudian memutuskan memanggil tukang becak untuk mengantarkan ke hotel di Prawirotaman yang telah saya pesan sebelumnya.

“Pak e, ke Prawirotaman ya..”

“Yo mbak Yu. Kok nyari apa toh jalan-jalan di belakang Malioboro? Biasanya kalau turis itu jalannya kan di depan sana,” kata si bapak tukang becak. Saya pun bercerita kalau sedang mencari jalan Sriwedari, yang seharusnya ada di belakang Malioboro tapi tak kunjung saya temukan meski sudah berputar-putar.

Bapak tukang becak pun tertawa. “Oalah mbak Yu, Jalan Sriwedari iku ya ndak ono. Adanya Jalan Sriwedani, tempat tadi mbak Yu duduk..”

Hati rasanya langsung mencelos…ternyata dari tadi saya muter-muter di Sriwedari..yang sudah disalah ketikkan oleh google map padahal nama aslinya Sriwedani. Yasudah saya pun ikut tertawa bersama bapak tukang becak, menertawakan kebodohan saya yang berujung jalan kaki sehat di Yogyakarta sore hari.

Dua hari kemudian, saat menunggu teman-teman berbelanja di Beringharjo, saya berjalan sendirian kembali ke Sriwedani. Jalanan di depan Taman Budaya ini begitu damai, berbeda dengan riuhnya Malioboro yang hanya berjarak satu blok di depannya.

Saya tertawa sendiri mengingat perjalanan saya sebelumnya, berputar-putar mencari si taman surga yang ternyata namanya berbeda. Mungkin memang yang namanya surga tak mudah untuk ditemukan, ya?

Sriwedani ya, bukan Sriwedari :D

Sriwedani ya, bukan Sriwedari šŸ˜€

A peaceful Sriwedani

A peaceful Sriwedani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s