Perjalanan Lima Tahun

Lupa bulan apa, yang jelas tahun 2009.

Tiba-tiba, mahasiswa Hubungan Internasional yang seangkatan sama gue itu ngajakin naik gunung. Ini tentu bikin gue kaget, karena gue sebenernya nggak deket-deket banget sama dia. Cuma jadi kenal karena kita sama-sama di bawah payung Kelompok Studi Mahasiswa (KSM).

“Yuk, naik gunung! Ke Gunung Gede aja yang deket,” katanya. “Tapi gue belum pernah naik gunung lho. Nggak yakin juga bakal diizinin sama orangtua,” begitu jawab gue saat itu.

Singkat cerita, mahasiswa bernama Pandhu Wiguna itu akhirnya berhasil meyakinkan gue untuk ikut ke Gunung Gede, yang mana adalah pengalaman pertama gue naik gunung. Bersama dengan dua teman lainnya, yang juga anak KSM, Theo & Wiwik, kita pun sepakat untuk mencapai Puncak Gede.

Perjalanan ke Gede gak mulus. Izin orangtua nyaris nggak gue dapet. Apalagi Wiwik, yang bener-bener nggak diizinin orangtuanya sampe dia nekat bohong (jangan ditiru! ahhaha). Tapi akhirnya kita jadi jalan juga, dan sampai di situ masalah pun belum selesai. Dari kita berempat, hanya Pandhu yang udah sering naik gunung. Gue, Theo & Wiwik masih ‘perawan’ dalam masalah mendaki gunung. Gunung Gede, dengan ketinggian 2.958 meter, memang dikenal sebagai gunung yang ramah bagi pendaki pemula. Tapi bukan berarti perjalanan kami lancar jaya.

Beberapa meter dari pos pertama, Wiwik muntah. Akhirnya Pandhu mengambil alih carriernya, tandem depan-belakang. Kami terlalu banyak berhenti karena memang fisik yang tidak kuat, sehingga perjalanan menuju pos Kandang Badak (pos terdekat ke Puncak Gede) yang harusnya hanya tujuh jam, jadi lebih dari 10 jam. Perjalanan dari Kandang Badak menuju Puncak yang harusnya hanya 2-3 jam pun berjalan lambat, terutama ketika kami tiba di Jembatan Setan. Fisik sudah lemah, hujan turun dengan derasnya. Waktu itu, kami berempat nyaris putus asa. Tapi kemudian kami berhasil mencapai puncak Gede dengan selamat (dan kebasahan). Saat turun gunung pun diwarnai dengan cerita-cerita seru, mulai dari langkah kami yang semakin melambat (padahal saat turun harusnya lebih cepat) dan orangtua Wiwik yang menghebohkan Jakarta karena tak ada kabar dari anaknya :))

Cerita pendakian pertama gue bersama teman-teman ini nggak pernah bosan-bosannya dikenang, dan diceritakan ulang. Sayang sejak saat itu, kami nggak pernah mengulang pendakian lagi, meski sering pelesir ke tempat-tempat lain. Tapi, foto kami di puncak Gede ini selalu bikin gue pengen banget naik gunung lagi.

4za2vu5x

Puncak Gede, 2009

Sampai kemarin, awal Februari 2014. Theo mengajak kami ke Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat. Sayangnya kali ini hanya gue dan Pandhu yang bisa ikut. Theo mengajak teman-teman sepermainannya di rumah, dengan begitu gue satu-satunya hawa dalam rombongan Papandayan ini. Berhubung gue males jadi cewek sendiri, gue pun mengajak Galuh, yang dulu pernah sekantor di Okezone. Untungnya Galuh langsung mau ikut, padahal ngajaknya h-2! :))

Perjalanan naik gunung kali ini lebih santai. Nggak seperti pendakian pertama yang kami sibuk mengurus logistik, tenda, dan lain-lain, kali ini gue lebih terima beres. Soal tenda udah diurus Theo & teman-temannya. Gue tinggal bawa makanan & uang. Jalur pendakian pun lebih enak, karena memang Papandayan ini termasuk gunung yang landai. Hanya butuh waktu tiga jam dari pos pertama hingga Pondok Salada (pos terdekat ke Puncak).

Tapi bukan berarti nggak seru. Teman-teman Theo dan beberapa teman lain yang kami temui di perjalanan membuat pendakian ini terasa lebih menyenangkan. Jalur Papandayan juga punya pemandangan yang luar biasa, jadi nggak bosan selama di jalan.

Di jalan pulang, gue ajak Theo & Pandhu untuk reka ulang foto kita waktu di Gede 5 tahun yang lalu. And here it is:

IMG-20140209-WA0044

Papandayan, 2014

That got me thinking. Gilak, lima tahun! Kalau diinget-inget, pendakian Gede itu awal gue, Pandhu, Theo & Wiwik berteman. Sejak itu kita jadi sering jalan-jalan, sama teman-teman yang lain juga. Saat itu juga gue jadi sadar, gue suka banget sama traveling. This might sound so cheesy, tapi pendakian Gede itu salah satu turning point paling penting dalam hidup gue. Mungkin kalau gue gak ikut dulu, gue gak bakal sedekat ini sama mereka. Gak bakal mungkin menyadari apa yang jadi passion gue which is lead to gak bakal kerja di bidang yang gue sukai: being a travel writer.

Five years ago we were at Puncak Gede, and five years later, we standing in Papandayan. Semoga apa yang kita punya sekarang semakin kuat, dan nantinya diberi kesempatan menjelajah tempat-tempat yang stunning lagi πŸ™‚

Advertisements

6 thoughts on “Perjalanan Lima Tahun

  1. komen.. itu yang nunjukin arah gueee… sipandu malah belom tau medan gunung gede.. kenapa gw jadi masih perawan…puh! . theo ruslan (zafran)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s