Syahdu di Gua Maria

Langit mulai gelap. Tempat saya duduk hanya diterangi lampu neon dan cahaya lilin di bawah patung Bunda Maria. Hari sudah mulai malam, tapi rasanya masih enggan beranjak dari tempat ini.

Beberapa waktu lalu, saya bersama seorang teman mengunjungi salah satu bangunan tua dan legendaris di Jakarta: Gereja Katedral di Jakarta Pusat. Sudah sering kali saya melewati bangunan bergaya neo gothik ini, tapi belum pernah sekalipun masuk ke dalamnya. Akhirnya pada saat itu, bersama teman saya yang kebetulan beragama Katolik, kami berkesempatan melihat seperti apa bagian dalam gereja yang dibangun persis di depan Masjid Istiqlal ini.

Biasanya, pengunjung tidak bisa masuk ke dalam gereja melalui pintu utama, kecuali bila ada acara besar. Namun kebetulan saat kami tiba sedang ada acara seminar sehingga pintu utamanya terbuka.

Di pintu utama, kami disambut patung Maria dan tulisan ‘Beatam Me Dicentes Omnes’, yang berarti “Semua keturunan menyebut aku bahagia”. Jantung saya berdegup kencang: ini adalah untuk pertama kalinya saya, seorang muslim, masuk ke dalam sebuah gereja.

Masuk melalui pintu utama, langsung sampai di ruang umat. Jejeran kursi-kursi untuk para jemaat beribadah menyambut kami. Langit-langit gereja ini begitu tinggi, khas bangunan antik. Di bagian depan, ada beberapa altar yaitu Altar Utama yang berhiaskan relief dan patung ke-12 murid Yesus, lalu relikui altar Maria dan Altar Yoseph. Di sampingnya, ada sebuah pipa orgel yang baru saya ketahui buatan Belgia pada 1988.

Kami tidak lama duduk di dalam gereja, karena mulai ramai untuk misa malam. Keluar lewat pintu samping, kami pun menuju Gua Maria.

Saya baru tahu, bahwa setiap Gereja Katolik pasti memiliki Goa Maria. Kabarnya, Goa Maria yang ada di Gereja Katedral Jakarta ini sangat mirip dengan Goa Maria di Lourdes, Prancis. Saat mendengar namanya, saya kira Goa Maria adalah benar-benar sebuah gua untuk umat Katolik berdoa.

Ternyata, Goa Maria adalah semacam altar untuk beribadah  dan ziarah kepada Bunda Maria. Beberapa orang tengah berdoa dengan khusyuk saat saya menjejakkan kaki di Goa Maria. Tempat duduknya dibuat panjang-panjang dari keramik, menghadap patung Bunda Maria yang diletakkan di atas bebatuan. Di bawahnya, terdapat lilin-lilin yang dipergunakan untuk berdoa. Saat itu menjelang maghrib, semilir angin membawa wangi bunga-bunga yang menghiasi Goa Maria membuat suasana semakin syahdu.

Teman saya berdoa sejenak, berlutut di hadapan patung Bunda Maria. Saya duduk menunggu di kursi paling belakang, sambil menikmati suasana tenang ini. Beberapa orang datang dan berdoa. Sementara itu suara pengajian menjelang adzan maghrib dari Mesjid Istiqlal di seberang sayup-sayup terdengar.

Saya tidak pernah membayangkan, di Jakarta yang sepadat ini, ada sebuah tempat yang begitu tenang, tak terusik ramainya suasana kota. Sebuah tempat peribadatan yang berusia lebih dari 100 tahun, yang tak tergerus zaman di tengah kota metropolitan.

Terima kasih sudah boleh berkunjung, Bunda Maria 🙂

Screenshot_2014-09-25-12-49-04-1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s