To Mend The Broken Heart

Setiap orang punya cara berbeda untuk menyembuhkan patah hatinya. Ada yang menenggak berbotol-botol alkohol hingga batas realita dan impiannya musnah. Ada yang bekerja pagi hingga malam supaya tak ada jeda kosong di pikirannya. Ada yang pergi sejauh-jauhnya, seakan berlari dari si pembuat patah hati bisa membuat semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Itu saya.

Patah hati itu seperti luka di lutut; susah sembuhnya. Saya ingat waktu kecil setiap jatuh karena berlari-larian di jalan dan membuat lutut terluka, Ibu selalu melarang untuk menyentuh luka itu. “Kalau dipegang, nanti tidak sembuh-sembuh dan jadi borok” Namanya juga anak kecil, nasehat Ibu hanya mampir saja di kuping. Dan ternyata kebiasaan memegang luka, membuatnya sulit sembuh itu tidak hilang hingga dewasa.

Tiga bulan ini saya dibuat uring-uringan karena si patah hati. Bulan pertama, saya ‘lari’ ke negara tetangga, memuaskan diri dengan belanja dan bersenang-senang supaya gak bandel dan bikin si luka patah hati kebuka lagi. Berhasil, tapi akibatnya tabungan liburan saya yang harusnya bisa untuk pergi setiap bulan hingga Mei jadi kandas. Akibatnya di bulan kedua saya harus rela gigit jari.

Di akhir bulan kedua, saya udah gak tahan lagi. I really need to get out from this city, but I have no money. Ditambah hp saya rusak, jadi pemasukan langsung habis untuk itu. Tapi kemudian ada tawaran dari teman untuk menyambangi si Prau di Jawa Tengah dengan bujet yang minim.

Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan tawaran itu. The idea of leaving Jakarta for a few days with a couple of friends seems a good plan before I’m going crazy. Sayangnya saat hari H keberangkatan, hampir semua teman saya membatalkan kepergian. Hanya tinggal saya dan Doddy.

Saat itu, bisa saja saya bilang sebaiknya perjalanan ke Prau dibatalkan saja. Tidak ada uang, untuk apa pergi kalau sepi? Tapi dorongan untuk pergi dari ibukota begitu besar, hingga saya pun akhirnya tetap nekat untuk pergi.

10 jam perjalanan kereta dari Pasar Senen ke Purwokerto, dilanjutkan 2 jam perjalanan bus ke Wonosobo kemudian 1 jam ke Patak Banteng, Dieng yang merupakan pos pertama pendakian Prau berhasil mengalihkan otak saya dari Jakarta. Apalagi ternyata trek mendaki Prau dari Patak Banteng yang begitu berat untuk saya yang pendaki pemula ini benar-benar membuat otak tak sempat berpikir apapun selain bagaimana caranya agar mencapai puncak dengan selamat.

Setelah tiga jam setengah berjalan di trek yang nyaris tanpa bonus (jalan mendatar), akhirnya saya sampai di puncak Prau (2560 mdpl). Cuaca cerah dan badan lelah menyambut kedatangan saya di Prau yang saat itu ramai orang berlong weekend. Hingga saat itu otak dan hati saya masih aman.

Malam hari, saat bersantai sambil makan malam tiba-tiba penjuru camp berteriak girang sambil menunjuk langit. Bintang. Puluhan, bukan, ratusan bintang bertebaran dengan manisnya di langit Prau yang cerah. Saya bisa melihat orion dengan jelas. Pemandangan luar biasa ini mengaktifkan lagi si luka yang belum tersentuh sejak 18 jam lalu. Shit. Saya teringat lagi…

If travel teach us how to see, how come everytime I go all I see is you?

Kejadian ini terulang di pagi hari saat menunggu matahari terbangun. Sudah nyaris pukul 06.00, tapi belum ada tanda-tanda mentari akan menampakkan dirinya. Kabut tebal menutupi pandangan di Puncak Prau, saat itu nampaknya mustahil bisa melihat si matahari terbit. Saat hampir menyerah menunggu sunrise, tiba-tiba saja angin meniup pergi kabut. Matahari muncul malu-malu di tengah awan di atas perbukitan camp pendaki. Sinarnya yang masih sedikit tertutup kabut menampakkan sedikit panorama Gunung Sindoro dan Sumbing di kejauhan. Pemandangan cantik ini tidak berlangsung lama, hanya 30 menit dan sialnya selama setengah jam itu yang saya pikirkan adalah betapa saya ingin dia ada saat itu juga untuk melihat luar biasanya pemandangan itu.

IMG_0006 (2) IMG_0013 (2) Processed with VSCOcam with kk2 presetBecause you know you love someone so dearly if everytime you’re in a beautiful places, you wish them were there to see it with you.

Jadi ternyata sejauh-jauhnya saya ‘lari’ ke gunung masih belum bisa bikin sembuh juga si patah hati..mungkin selanjutnya harus menyelam ke laut? 🙂

Advertisements

3 thoughts on “To Mend The Broken Heart

  1. Ohh.. jadi waktu itu pada ngebatalin semua ya? Padahal sayang banget, gw udah siap kaya mau ke puncak semeru. HAHAHAHA… kapan2 kalo patah hati lagi, ajak semua anak2 tuh ke puncak Mahameru. Asiiikkk 😀

    • Bedaa dari yang waktu gue ngajak lu bang, ini sebulan setelahnya… Mau ngajak lu, tapi waktu itu lu baru mulai kerja di tempat baru.. yuk lah next!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s