To Mend The Broken Heart

Setiap orang punya cara berbeda untuk menyembuhkan patah hatinya. Ada yang menenggak berbotol-botol alkohol hingga batas realita dan impiannya musnah. Ada yang bekerja pagi hingga malam supaya tak ada jeda kosong di pikirannya. Ada yang pergi sejauh-jauhnya, seakan berlari dari si pembuat patah hati bisa membuat semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Itu saya.

Patah hati itu seperti luka di lutut; susah sembuhnya. Saya ingat waktu kecil setiap jatuh karena berlari-larian di jalan dan membuat lutut terluka, Ibu selalu melarang untuk menyentuh luka itu. “Kalau dipegang, nanti tidak sembuh-sembuh dan jadi borok” Namanya juga anak kecil, nasehat Ibu hanya mampir saja di kuping. Dan ternyata kebiasaan memegang luka, membuatnya sulit sembuh itu tidak hilang hingga dewasa.

Tiga bulan ini saya dibuat uring-uringan karena si patah hati. Bulan pertama, saya ‘lari’ ke negara tetangga, memuaskan diri dengan belanja dan bersenang-senang supaya gak bandel dan bikin si luka patah hati kebuka lagi. Berhasil, tapi akibatnya tabungan liburan saya yang harusnya bisa untuk pergi setiap bulan hingga Mei jadi kandas. Akibatnya di bulan kedua saya harus rela gigit jari.

Di akhir bulan kedua, saya udah gak tahan lagi. I really need to get out from this city, but I have no money. Ditambah hp saya rusak, jadi pemasukan langsung habis untuk itu. Tapi kemudian ada tawaran dari teman untuk menyambangi si Prau di Jawa Tengah dengan bujet yang minim.

Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan tawaran itu. The idea of leaving Jakarta for a few days with a couple of friends seems a good plan before I’m going crazy. Sayangnya saat hari H keberangkatan, hampir semua teman saya membatalkan kepergian. Hanya tinggal saya dan Doddy.

Saat itu, bisa saja saya bilang sebaiknya perjalanan ke Prau dibatalkan saja. Tidak ada uang, untuk apa pergi kalau sepi? Tapi dorongan untuk pergi dari ibukota begitu besar, hingga saya pun akhirnya tetap nekat untuk pergi.

10 jam perjalanan kereta dari Pasar Senen ke Purwokerto, dilanjutkan 2 jam perjalanan bus ke Wonosobo kemudian 1 jam ke Patak Banteng, Dieng yang merupakan pos pertama pendakian Prau berhasil mengalihkan otak saya dari Jakarta. Apalagi ternyata trek mendaki Prau dari Patak Banteng yang begitu berat untuk saya yang pendaki pemula ini benar-benar membuat otak tak sempat berpikir apapun selain bagaimana caranya agar mencapai puncak dengan selamat.

Setelah tiga jam setengah berjalan di trek yang nyaris tanpa bonus (jalan mendatar), akhirnya saya sampai di puncak Prau (2560 mdpl). Cuaca cerah dan badan lelah menyambut kedatangan saya di Prau yang saat itu ramai orang berlong weekend. Hingga saat itu otak dan hati saya masih aman.

Malam hari, saat bersantai sambil makan malam tiba-tiba penjuru camp berteriak girang sambil menunjuk langit. Bintang. Puluhan, bukan, ratusan bintang bertebaran dengan manisnya di langit Prau yang cerah. Saya bisa melihat orion dengan jelas. Pemandangan luar biasa ini mengaktifkan lagi si luka yang belum tersentuh sejak 18 jam lalu. Shit. Saya teringat lagi…

If travel teach us how to see, how come everytime I go all I see is you?

Kejadian ini terulang di pagi hari saat menunggu matahari terbangun. Sudah nyaris pukul 06.00, tapi belum ada tanda-tanda mentari akan menampakkan dirinya. Kabut tebal menutupi pandangan di Puncak Prau, saat itu nampaknya mustahil bisa melihat si matahari terbit. Saat hampir menyerah menunggu sunrise, tiba-tiba saja angin meniup pergi kabut. Matahari muncul malu-malu di tengah awan di atas perbukitan camp pendaki. Sinarnya yang masih sedikit tertutup kabut menampakkan sedikit panorama Gunung Sindoro dan Sumbing di kejauhan. Pemandangan cantik ini tidak berlangsung lama, hanya 30 menit dan sialnya selama setengah jam itu yang saya pikirkan adalah betapa saya ingin dia ada saat itu juga untuk melihat luar biasanya pemandangan itu.

IMG_0006 (2) IMG_0013 (2) Processed with VSCOcam with kk2 presetBecause you know you love someone so dearly if everytime you’re in a beautiful places, you wish them were there to see it with you.

Jadi ternyata sejauh-jauhnya saya ‘lari’ ke gunung masih belum bisa bikin sembuh juga si patah hati..mungkin selanjutnya harus menyelam ke laut? πŸ™‚

A Girl and Her Dream

Setiap perempuan punya mimpi yang berbeda. Ada yang bermimpi bertemu pangeran impiannya, ada juga yang bermimpi ingin keliling dunia. Some girls dream about being a successful career woman, while some longing to be a good wife for her little family.

Untuk sepupu saya, salah satu dari mimpinya sederhana: ingin memeluk gajah.

———

Sepupu saya, Dini Akbari, suka sekali dengan gajah. Saya tidak ingat sejak kapan, tapi saya tahu kamarnya penuh dengan gajah dalam berbagai macam bentuk. Ia punya boneka gajah yang dinamakannya Momos, dan masih banyak lagi barang-barang kecil berbentuk mamalia darat terbesar di dunia ini. Teman dan keluarganya tahu itu, dan setiap kami melihat mainan/merchandise gajah, pasti tak lupa membelikan untuknya. Saya ingat dia pernah menangis terharu saat saya mengirimkan video bayi gajah sedang berlarian di Kebun Binatang Ragunan yang saya rekam saat sedang meliput kesana. She just really in love with the elephant. Puncak kecintaannya adalah ingin memeluk gajah, tidak hanya sekedar melihatnya dari balik kandang di kebun binatang.

Kemana lagi melihat gajah di alam liarnya, kalau bukan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung? Sudah lama sekali ia ingin mengunjungi taman nasional tertua di Indonesia tersebut, tapi sayang waktu belum mengizinkan. Hingga akhirnya, atas keputusan yang sangat impulsif, libur long weekend Natal kemarin ia memutuskan untuk mewujudkan mimpinya, ke Way Kambas.

So off we go then. Me, Dini, and her sister, Amie. It’s been a while since the three of us went traveling, due to our busy days of working. Sepanjang jalan, bahkan sebelum pergi, sepupu saya sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan nanti di Way Kambas. Memeluk bayi gajah, berfoto dan bermain bersama.

Dari Bandar Lampung menuju Way Kambas hanya dibutuhkan waktu dua jam berkendara. Semakin dekat dengan tujuan, wajah sepupu saya semakin terlihat senang. “Uni deg-degan,” ujarnya. Saya tahu perasaan itu, perasaan ketika jarak antara mimpi dan kenyataan hanya tinggal sejengkal saja πŸ™‚

Sampailah kami di Way Kambas. Awalnya agak kecewa, karena di area pengunjung hanya terlihat gajah tunggangan, tidak ada gajah liar. Apa bedanya Way Kambas dengan Ragunan?

Tapi kemudian kami melihat satu anak gajah di dekat danau. Sendirian, tanpa pawang, berjalan kesana kemari. We approach him, and give him some food. Sepupu saya awalnya takut, tapi kemudian ia dengan berani mendekati gajah kecil ini dan memeluknya.. her dream do come true!

IMG_8873 Dan ternyata, di dekat danau masih banyak gajah-gajah liar lainnya. Semakin puaslah ia berfoto dan bermain bersama gajah-gajah ini. Sepanjang hari kami habiskan di Way Kambas, dan ia pulang dengan senyum lebar di wajahnya.

IMG_8987IMG_9127IMG_9125IMG_9135IMG_9138
—–

Setiap perempuan punya mimpi yang berbeda. Ada yang bermimpi bertemu pangeran impiannya, ada juga yang bermimpi ingin keliling dunia. Some girls dream about being a successful career woman, while some longing to be a good wife for her little family.

Mimpi kami memang berbeda, but there’s one thing in common: That glowing smile when her dream comes true πŸ™‚

IMG_9179IMG_9180

Jakarta Rasa Raja Ampat

Seperti yang udah pernah ditulis disini, gue tuh suka banget sama Jakarta. Udah 7 tahun lebih kuliah+kerja di ibukota, gak ada bosen-bosennya. Malah, ada aja yang bikin gue amazed sama kota ini.

Jadi ceritanya, gue nemu tempat keren baru di Jakarta. Well, nggak baru sih..lebih tepatnya gue baru tahu. Tempat ini berada di Jakarta Utara, wilayah Jakarta yang jaraaang banget gue kunjungi. Jadi berhubung rumah gue di Bogor dan wilayah Jakarta Utara itu minim akses ke stasiun kereta, gue selalu males kalau ada acara di sana. Kalau terpaksa banget, misalnya kalau ada liputan, baru deh gue mau kesana. Yang baru gue jangkau itupun paling Kelapa Gading doang, itu aja rasanya malesin.

Nah, weekend kemaren gue, Doddy & Sastri impulsively main ke Jakut, tepatnya ke Taman Wisata Alam (TWA) Muara Angke. Ternyata kalau naik mobil pribadi, nggak begitu jauh lho ke Angke. Perjalanan dari Warung Buncit (Jaksel) ke TWA hanya memakan waktu satu jam saja, itu juga karena kita sempet nyasar.

TWA Muara Angke berada di kawasan Pantai Indah Kapuk, tepatnya di belakang gedung Yayasan Buddha Tzu Chi. Kalau sudah sampai di PIK, nggak sulit mencarinya karena banyak penunjuk jalan menuju tempat wisata ini. Biaya masuknya adalah Rp25 ribu/orang dan Rp10 ribu untuk anak-anak. Dikenakan juga biaya tambahan sebesar Rp10 ribu untuk mobil.

Nah ternyata, untuk masuk kawasan TWA ini juga banyak syaratnya. Yang paling aneh menurut gue sih adalah nggak boleh bawa kamera profesional! Jadi kamera digital ataupun SLR itu harus ditinggal, kecuali bayar satu juta rupiah. Ini karena memang TWA dikomersialisasi untuk foto pre-wed maupun iklan. Sayang sekali sih, tapi untungnya kamera ponsel masih boleh masuk.

Jadi sebenarnya apa sih isi TWA? Kawasan dengan luas 99,82 hektar ini merupakan area pelestarian tanaman bakau alias mangrove sekaligus juga sarana ekowisata. Ada beberapa cottage juga puluhan tenda permanen kalau mau coba bermalam di kawasan hutan bakau ini.

2014-09-28 16.01.30Β Β Β  IMG-20140929-WA0000

TWA juga punya fasilitas wisata air, yaitu motor boat (Rp350 ribu/6 orang), perahu (Rp100 ribu/4 orang) dan kano (Rp50 ribu/2 orang). Semuanya bisa disewa dengan waktu 45 menit, untuk berkeliling di danau sambil memandangi vegetasi-vegetasi hutan bakau. Kita juga bisa ikut nanam bakau di TWA, dengan harga paket mulai Rp150 ribu.

Kalau kangen sama pemandangan hijau-hijau, TWA ini tempat yang tepat! Lo bisa jalan-jalan di area TWA yang didominasi nuansa kayu dan jembatan-jembatan yang berdiri di atas rawa-rawa. Bisa juga mendayung santai di danaunya, sambil nunggu sunset ditemani suara burung-burung, bahkan kadang ada biawak lho! Di TWA ini juga masih banyak spesies burung-burung liar yang cakep buat jadi obyek foto.

IMG-20140928-WA0048

Saran gue sih, kalau baru pacaran atau lagi pedekate sebaiknya jangan main perahu dayung. Kelihatannya emang ngedayung itu gampang ya, santai lagi… but trust me, its not! Jadi waktu kita ngedayung bertiga, itu malah jadi ketawa mulu bawaannya. Yang salah arah lah, yang tau-tau malah jadi nyungsep ke arah semak-semak lah.. dan berat banget, salut deh sama atlit-atlit pedayung! :)) BTW kalau lagi ngedayung itu muka suka gak kekontrol tampangnya, makanya gue bilang sebaiknya jangan kalau pacaran masih seumur jagung atau lagi pedekate. Tapi kalau pacarannya udah lama, nah boleh tuh dicoba ngedayung untuk ngetes apakah pasangan lo mampu mengarahkan ke jalan yang benar :))

IMG-20140928-WA0036
Anyway, we’re having a really great time di TWA. Setelah puas dan capek ngedayung, kita naik ke salah satu menara bird-watching di sana. Pemandangannya itu kayak di Raja Ampat, atau kalau temen gue bilang kaya Amazon. Kita bisa lihat danau tempat main perahu tadi, juga garis pantai di luar area TWA. Kelihatan juga, betapa banyak pembangunan yang lagi dilakukan di Pantai Indah Kapuk dan sekitarnya.

IMG-20140928-WA0050

Kami main di TWA sampai selepas maghrib. Karena lapar, lanjut cari makan di PIK yang memang banyak banget pilihan makanannya. Ohiya, di TWA juga ada kafe dan restoran kalau nggak tahan laper pas main di sana.

So, Jakarta Utara was really rocks! Nggak nyangka ada tempat kaya gini di ibukota. Jadi, kalau bosen sama suasana kota nggak perlu jauh-jauh naik pesawat atau kereta, cukup ke TWA aja! πŸ˜€

Syahdu di Gua Maria

Langit mulai gelap. Tempat saya duduk hanya diterangi lampu neon dan cahaya lilin di bawah patung Bunda Maria. Hari sudah mulai malam, tapi rasanya masih enggan beranjak dari tempat ini.

Beberapa waktu lalu, saya bersama seorang teman mengunjungi salah satu bangunan tua dan legendaris di Jakarta: Gereja Katedral di Jakarta Pusat. Sudah sering kali saya melewati bangunan bergaya neo gothik ini, tapi belum pernah sekalipun masuk ke dalamnya. Akhirnya pada saat itu, bersama teman saya yang kebetulan beragama Katolik, kami berkesempatan melihat seperti apa bagian dalam gereja yang dibangun persis di depan Masjid Istiqlal ini.

Biasanya, pengunjung tidak bisa masuk ke dalam gereja melalui pintu utama, kecuali bila ada acara besar. Namun kebetulan saat kami tiba sedang ada acara seminar sehingga pintu utamanya terbuka.

Di pintu utama, kami disambut patung Maria dan tulisan ‘Beatam Me Dicentes Omnes’, yang berarti “Semua keturunan menyebut aku bahagia”. Jantung saya berdegup kencang: ini adalah untuk pertama kalinya saya, seorang muslim, masuk ke dalam sebuah gereja.

Masuk melalui pintu utama, langsung sampai di ruang umat. Jejeran kursi-kursi untuk para jemaat beribadah menyambut kami. Langit-langit gereja ini begitu tinggi, khas bangunan antik. Di bagian depan, ada beberapa altar yaitu Altar Utama yang berhiaskan relief dan patung ke-12 murid Yesus, lalu relikui altar Maria dan Altar Yoseph. Di sampingnya, ada sebuah pipa orgel yang baru saya ketahui buatan Belgia pada 1988.

Kami tidak lama duduk di dalam gereja, karena mulai ramai untuk misa malam. Keluar lewat pintu samping, kami pun menuju Gua Maria.

Saya baru tahu, bahwa setiap Gereja Katolik pasti memiliki Goa Maria. Kabarnya, Goa Maria yang ada di Gereja Katedral Jakarta ini sangat mirip dengan Goa Maria di Lourdes, Prancis. Saat mendengar namanya, saya kira Goa Maria adalah benar-benar sebuah gua untuk umat Katolik berdoa.

Ternyata, Goa Maria adalah semacam altar untuk beribadahΒ  dan ziarah kepada Bunda Maria. Beberapa orang tengah berdoa dengan khusyuk saat saya menjejakkan kaki di Goa Maria. Tempat duduknya dibuat panjang-panjang dari keramik, menghadap patung Bunda Maria yang diletakkan di atas bebatuan. Di bawahnya, terdapat lilin-lilin yang dipergunakan untuk berdoa. Saat itu menjelang maghrib, semilir angin membawa wangi bunga-bunga yang menghiasi Goa Maria membuat suasana semakin syahdu.

Teman saya berdoa sejenak, berlutut di hadapan patung Bunda Maria. Saya duduk menunggu di kursi paling belakang, sambil menikmati suasana tenang ini. Beberapa orang datang dan berdoa. Sementara itu suara pengajian menjelang adzan maghrib dari Mesjid Istiqlal di seberang sayup-sayup terdengar.

Saya tidak pernah membayangkan, di Jakarta yang sepadat ini, ada sebuah tempat yang begitu tenang, tak terusik ramainya suasana kota. Sebuah tempat peribadatan yang berusia lebih dari 100 tahun, yang tak tergerus zaman di tengah kota metropolitan.

Terima kasih sudah boleh berkunjung, Bunda Maria πŸ™‚

Screenshot_2014-09-25-12-49-04-1

Sudah Kemana Saja?

Kalau bertemu rekan-rekan seprofesi, ada pertanyaan yang (biasanya) selalu muncul:

“Habis liputan kemana saja akhir-akhir ini?”

Biasanya saya cuma menjawab dengan senyuman saja. Atau tertawa. Saya sebenarnya sedang menghindari pertanyaan semacam ini: karena saya, seorang jurnalis travel, sudah berbulan-bulan tidak pergi kemana-mana.

Nggak usah dibahaslah kenapa saya yang biasanya dapat liputan keluar kota tiap sebulan sekali, tahun ini jadi gersang sekali. Apalagi di kantor lama (sudah enam bulan ini saya menempati kantor baru dengan posisi sama). Mungkin memang belum rejekinya.

Tapi gak terhindarkan, saya iri sama teman-teman seprofesi. Ada yang baru pulang dari liputan luar negeri, langsung lanjut ke Indonesia Timur. Ada yang dua minggu sekali ikut maskapai. Ada yang tahun ini sudah tiga kali ke luar negeri. Impian saya ke Raja Ampat tahun ini juga sepertinya harus pupus.

Sedih sekali? Iya pasti. Esensi dari pekerjaan saya adalah traveling. Kalau nggak jalan, ya nggak dapat berita. Tapi lama kelamaan bosan juga mengeluhkan hal sama…dan saya menyadari satu hal. Traveling ya bukan berarti harus jauh. It literally means ‘go’..so here I go.

Akhirnya saya inisiatif jalan-jalan sendiri. Ke Pelabuhan Ratu, ke Lembang, ke Bandung. Bahkan saya gak bosan-bosannya keliling Jakarta naik bus wisata (dan menemukan tempat-tempat yang belum pernah saya ketahui sebelumnya). Rasanya semua keresahan terjawab.

Jadi ya itu. Sebenarnya semua yang kita inginkan sudah di depan mata. Nggak perlu fancy, nggak perlu jauh. Cukup niat yang tulus dan kebesaran hati sudah cukup πŸ™‚

Btw, saat menulis ini sebenarnya saya baru pulang tugas dari Semarang. Kota yang mirip dengan Jakarta, dan liputan yang menyenangkan karena berbeda dari liputan sebelumnya πŸ˜€

Jalan-jalan keliling kota paling random sama Galuh :D

Jalan-jalan keliling kota paling random sama Galuh πŸ˜€

Perjalanan Lima Tahun

Lupa bulan apa, yang jelas tahun 2009.

Tiba-tiba, mahasiswa Hubungan Internasional yang seangkatan sama gue itu ngajakin naik gunung. Ini tentu bikin gue kaget, karena gue sebenernya nggak deket-deket banget sama dia. Cuma jadi kenal karena kita sama-sama di bawah payung Kelompok Studi Mahasiswa (KSM).

“Yuk, naik gunung! Ke Gunung Gede aja yang deket,” katanya. “Tapi gue belum pernah naik gunung lho. Nggak yakin juga bakal diizinin sama orangtua,” begitu jawab gue saat itu.

Singkat cerita, mahasiswa bernama Pandhu Wiguna itu akhirnya berhasil meyakinkan gue untuk ikut ke Gunung Gede, yang mana adalah pengalaman pertama gue naik gunung. Bersama dengan dua teman lainnya, yang juga anak KSM, Theo & Wiwik, kita pun sepakat untuk mencapai Puncak Gede.

Perjalanan ke Gede gak mulus. Izin orangtua nyaris nggak gue dapet. Apalagi Wiwik, yang bener-bener nggak diizinin orangtuanya sampe dia nekat bohong (jangan ditiru! ahhaha). Tapi akhirnya kita jadi jalan juga, dan sampai di situ masalah pun belum selesai. Dari kita berempat, hanya Pandhu yang udah sering naik gunung. Gue, Theo & Wiwik masih ‘perawan’ dalam masalah mendaki gunung. Gunung Gede, dengan ketinggian 2.958 meter, memang dikenal sebagai gunung yang ramah bagi pendaki pemula. Tapi bukan berarti perjalanan kami lancar jaya.

Beberapa meter dari pos pertama, Wiwik muntah. Akhirnya Pandhu mengambil alih carriernya, tandem depan-belakang. Kami terlalu banyak berhenti karena memang fisik yang tidak kuat, sehingga perjalanan menuju pos Kandang Badak (pos terdekat ke Puncak Gede) yang harusnya hanya tujuh jam, jadi lebih dari 10 jam. Perjalanan dari Kandang Badak menuju Puncak yang harusnya hanya 2-3 jam pun berjalan lambat, terutama ketika kami tiba di Jembatan Setan. Fisik sudah lemah, hujan turun dengan derasnya. Waktu itu, kami berempat nyaris putus asa. Tapi kemudian kami berhasil mencapai puncak Gede dengan selamat (dan kebasahan). Saat turun gunung pun diwarnai dengan cerita-cerita seru, mulai dari langkah kami yang semakin melambat (padahal saat turun harusnya lebih cepat) dan orangtua Wiwik yang menghebohkan Jakarta karena tak ada kabar dari anaknya :))

Cerita pendakian pertama gue bersama teman-teman ini nggak pernah bosan-bosannya dikenang, dan diceritakan ulang. Sayang sejak saat itu, kami nggak pernah mengulang pendakian lagi, meski sering pelesir ke tempat-tempat lain. Tapi, foto kami di puncak Gede ini selalu bikin gue pengen banget naik gunung lagi.

4za2vu5x

Puncak Gede, 2009

Sampai kemarin, awal Februari 2014. Theo mengajak kami ke Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat. Sayangnya kali ini hanya gue dan Pandhu yang bisa ikut. Theo mengajak teman-teman sepermainannya di rumah, dengan begitu gue satu-satunya hawa dalam rombongan Papandayan ini. Berhubung gue males jadi cewek sendiri, gue pun mengajak Galuh, yang dulu pernah sekantor di Okezone. Untungnya Galuh langsung mau ikut, padahal ngajaknya h-2! :))

Perjalanan naik gunung kali ini lebih santai. Nggak seperti pendakian pertama yang kami sibuk mengurus logistik, tenda, dan lain-lain, kali ini gue lebih terima beres. Soal tenda udah diurus Theo & teman-temannya. Gue tinggal bawa makanan & uang. Jalur pendakian pun lebih enak, karena memang Papandayan ini termasuk gunung yang landai. Hanya butuh waktu tiga jam dari pos pertama hingga Pondok Salada (pos terdekat ke Puncak).

Tapi bukan berarti nggak seru. Teman-teman Theo dan beberapa teman lain yang kami temui di perjalanan membuat pendakian ini terasa lebih menyenangkan. Jalur Papandayan juga punya pemandangan yang luar biasa, jadi nggak bosan selama di jalan.

Di jalan pulang, gue ajak Theo & Pandhu untuk reka ulang foto kita waktu di Gede 5 tahun yang lalu. And here it is:

IMG-20140209-WA0044

Papandayan, 2014

That got me thinking. Gilak, lima tahun! Kalau diinget-inget, pendakian Gede itu awal gue, Pandhu, Theo & Wiwik berteman. Sejak itu kita jadi sering jalan-jalan, sama teman-teman yang lain juga. Saat itu juga gue jadi sadar, gue suka banget sama traveling. This might sound so cheesy, tapi pendakian Gede itu salah satu turning point paling penting dalam hidup gue. Mungkin kalau gue gak ikut dulu, gue gak bakal sedekat ini sama mereka. Gak bakal mungkin menyadari apa yang jadi passion gue which is lead to gak bakal kerja di bidang yang gue sukai: being a travel writer.

Five years ago we were at Puncak Gede, and five years later, we standing in Papandayan. Semoga apa yang kita punya sekarang semakin kuat, dan nantinya diberi kesempatan menjelajah tempat-tempat yang stunning lagi πŸ™‚

Mencari Sriwedari

Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara
Setapak di taman sriwedari
Setapak sriwedari denganmu

(Setapak Sriwedari – Maliq & D’essentials)

Saya lagi jatuh cinta banget sama lagu ini. Padahal, sebelumnya saya nggak pernah dengerin lagu-lagunya Maliq, kecuali kalau temen-temen lagi nyanyiin di karaoke. Tapi sejak pertama kali dengar lagu Sriwedari ini, saya langsung jatuh hati (dan bukan, bukan karena lagu ini ada makna sesuatu ke seseorang, bukan! :)) ) dan jadi suka lagu-lagu Angga & kawan-kawan lainnya.

Anyway, menurut yang saya baca Sriwedari itu artinya Taman Surga. Saya tambah suka dengan lagu ini, rasanya ‘Indonesia’ banget. Taman Sriwedari pun sungguhan ada di Solo, sebuah taman yang katanya indah bak surga.

Sayang saya belum jodoh ke Solo, tapi justru ke Yogyakarta, untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Ingin menikmati suasana Yogyakarta sendirian, Saya pun datang lebih awal ke kota ini dari teman-teman.

Seperti biasa, beberapa hari sebelum berangkat saya mulai meneliti peta Yogyakarta dari google maps, mencari tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi dan mengira-ngira berapa jauh jarak yang akan saya tempuh. Sampai saya menemukan ini di peta digital tersebut:

sriwedariJalan Sriwedari! Saya nggak pernah tahu bahwa di Yogyakarta ada si jalan taman surga. Saya tambah semangat ingin ke Yogyakarta, dengan tujuan pertama mengunjungi Sriwedari. Apalagi ternyata jaraknya tak jauh dari Malioboro, jadi seharusnya tidak sulit untuk dicapai. Saya pun penasaran, apakah Jalan Sriwedari ini sama cantiknya seperti Taman Sriwedari di Solo?

Jumat, 1 November 2013 adalah hari keberangkatan saya ke Yogyakarta. Dengan Taksaka Pagi, pukul 08.30 saya sudah melesat dari Gambir menuju Stasiun Tugu. Delapan jam kemudian tibalah saya di stasiun tersebut.

Tak memperdulikan perut yang kelaparan karena tidak makan siang di kereta, saya langsung berjalan kaki ke Malioboro, ke arah Sriwedari. Hanya berbekal google maps yang ada di ponsel, saya menyusuri pertokoan pusat kota Yogyakarta ini, mencari-cari gang menuju Sriwedari.

Saya memasuki satu gang di sebelah Pasar Beringharjo, yang saya yakini menuju Jalan Sriwedari. Tapi ternyata itu hanyalah gang kecil tak bernama (atau ada namanya tapi saya nggak lihat). Saya berbelok ke kanan, mengikuti petunjuk dari GPS di ponsel. Nihil. Tak ada Jalan Sriwedari, yang saya temui adalah Jalan Pabringan.

Saya mencoba berjalan kaki lagi, kali ini mengambil arah lain, bukan dari Malioboro. Saya ke Jl Mayor Suryotomo, sekira dua blok dari Malioboro. Mengikuti petunjuk GPS dan melihat-lihat toko sekitar, nihil. Tetap Sriwedari tidak saya temukan.

Belum putus asa, saya coba masuk lagi ke gang-gang dekat Jalan Pabringan yang ternyata menyambung ke Taman Budaya Yogyakarta. GPS menunjukkan bahwa saya sudah tiba di Sriwedari. Tapi kok….

Plang jalan yang saya lihat bukan bertuliskan Sriwedari, tapi SriwedaNI. Tak percaya, saya berpikir mungkin Jalan Sriwedani ini hanyalah nama jalan lain yang berdekatan dengan Sriwedari.

Waktu itu, langit sudah mulai gelap, sudah hampir Maghrib. Saya duduk di depan Taman Budaya, dan kemudian memutuskan memanggil tukang becak untuk mengantarkan ke hotel di Prawirotaman yang telah saya pesan sebelumnya.

“Pak e, ke Prawirotaman ya..”

“Yo mbak Yu. Kok nyari apa toh jalan-jalan di belakang Malioboro? Biasanya kalau turis itu jalannya kan di depan sana,” kata si bapak tukang becak. Saya pun bercerita kalau sedang mencari jalan Sriwedari, yang seharusnya ada di belakang Malioboro tapi tak kunjung saya temukan meski sudah berputar-putar.

Bapak tukang becak pun tertawa. “Oalah mbak Yu, Jalan Sriwedari iku ya ndak ono. Adanya Jalan Sriwedani, tempat tadi mbak Yu duduk..”

Hati rasanya langsung mencelos…ternyata dari tadi saya muter-muter di Sriwedari..yang sudah disalah ketikkan oleh google map padahal nama aslinya Sriwedani. Yasudah saya pun ikut tertawa bersama bapak tukang becak, menertawakan kebodohan saya yang berujung jalan kaki sehat di Yogyakarta sore hari.

Dua hari kemudian, saat menunggu teman-teman berbelanja di Beringharjo, saya berjalan sendirian kembali ke Sriwedani. Jalanan di depan Taman Budaya ini begitu damai, berbeda dengan riuhnya Malioboro yang hanya berjarak satu blok di depannya.

Saya tertawa sendiri mengingat perjalanan saya sebelumnya, berputar-putar mencari si taman surga yang ternyata namanya berbeda. Mungkin memang yang namanya surga tak mudah untuk ditemukan, ya?

Sriwedani ya, bukan Sriwedari :D

Sriwedani ya, bukan Sriwedari πŸ˜€

A peaceful Sriwedani

A peaceful Sriwedani