Blue

Everytime somebody ask me what my favourite colour is, I always have different answer. When I was teenager; black. When I started my flirting years, it was red. If you asked me two years ago, it was blue.

Maybe unconsciously I always like the colour blue. Every time I travel, it always has blue on it; blue sky, turquoise water. Anyone who knows me well understand how much I love the sea. Let’s go on snorkeling! Let’s sleep under the sun all day!

The recent blue I love I saw it when on a business trip to a place I never been to before; Gorontalo. I was pretty scared at first because their airport was just recently open after a bit of mishap, when a plance slide off the runway because it was raining. The news I read said that it has been raining in Gorontalo for a week, probably not a good time to visit. What do you know; two days I was there it was sunny all day, the sky was striking blue. The view from the plane’s window shows no boundary between the sea and the sky, both are beautifully blue. I couldn’t be happier.

Joni Mitchell once sings about Blue.

Blue songs are like tattoos/You know I’ve been to sea before/Crown and anchor me/Or let me sail away…

Like Mitchell, I was in love with the colour of blue once, the ones in someone’s eyes. I witnessed how the blue can be playful, loving, funny, and calming, and then it turned into strange, disappointing look. That was the last time I saw the blue and I thought I could never love that colour again.

This time it wasn’t blue. It was green, with a slightly brown (or was it grey?) highlight and somehow I can feel that it contained wisdom. It looked at me lovingly yet I cannot look back. As asshole and cliche and impossible it sound (plus the fact that I probably just looking for excuses), perhaps it’s because they weren’t blue.

Advertisements

January in Jakarta

Kemana kamu menghabiskan bulan pertama di 2013? Saya, seperti biasanya di awal tahun memang tidak ada undangan Dinas Luar Kota. Akhirnya, untuk memuaskan dahaga pengen-jalan-jalan-tapi-nggak-ada-duit, saya memutuskan untuk keliling Jakarta.

Jakarta di Januari ini punya kesan tersendiri yang berbeda bagi saya. Hujan dan banjir melanda ibukota, membuat saya melihat kota ini dari perspektif yang baru. Selama ini saya hanya melihat banjir di Jakarta dari layar kaca saja, secara saya orang Bogor yang kerap menjadi tempat yang disalahkan ketika Jakarta Banjir.

Jadi, ketika Jakarta dilanda hujan besar dan banjir pada 17 Januari lalu, saya sedang berada di jalan. Saat berangkat dari rumah, saya dapat kabar bahwa kereta–moda transportasi yang selalu saya pakai untuk mencapai kantor–hanya beroperasi sampai Stasiun Pasar Minggu, padahal tujuan saya, Stasiun Gondangdia masih sangat jauh.

Akhirnya, saya memutuskan untuk berangkat bersama ayah saya (yang kantornya di blok M) dengan mobil. Rencana awal, sampai di Blok M saya akan naik Bus Transjakarta sampai halte Bank Indonesia, yang paling dekat ke kantor.

Apa daya, ternyata sampai di Jakarta dapat kabar bahwa transjakarta tidak beroperasi, akibat jalur Blok M-Kota terendam banjir. Akhirnya saya memutuskan untuk….jalan kaki ke kantor.

Ayah saya mengantarkan sampai Semanggi, dan saya meyakinkan dia bahwa saya akan mencari ojek untuk ke kantor. Ternyata ojek pun tidak ada yang mau membawa penumpang, karena jalanan sudirman yang sudah tergenang banjir hingga Thamrin.

Saya nekat jalan kaki, dan ternyata tidak jauh juga. Tapi sesampainya di Dukuh Atas, barulah saya sadar perjalanan ini akan sulit untuk diteruskan. Mulai dari Dukuh Atas hingga Sarinah, banjir menggenang hingga sedada orang dewasa.

Saya bingung, mau balik lagi pun tidak bisa mengabari orang kantor dan orang tua karena blackberry saya habis baterai. Saya duduk di tepian jalan Sudirman bersama ratusan orang lain, menunggu sesuatu yang sebenarnya saya juga tidak tahu apa yang ditunggu. Menunggu air surut? Sepertinya tidak mungkin karena hujan pun terus turun meski hanya rintik-rintik.

Perahu karet mulai berdatangan, namun diprioritaskan hanya untuk warga yang bertempat tinggal di Blora dan sekitarnya, yang setengah dari rumahnya sudah terendam akibat tanggul latuharhary jebol. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 lewat, saya mulai bosan duduk diam saja.

Akhirnya, saya nekat menyeberangi banjir. Itupun setelah melihat beberapa orang menyusuri banjir dari trotoar pembatas jalur yang ada di tengah jalan Sudirman, meski sudah tak terlihat karena terendam air. Tapi setidaknya, trotoar ini lebih tinggi daripada jalan raya, sehingga memudahkan kami untuk berjalan.

Dari Tosari hingga ke Bundaran HI, masih mudah berjalan, karena air hanya setinggi betis saya (tinggi saya 168 cm, by the way). Sepanjang jalan saya melihat banyak orang yang sepertinya sudah biasa dengan situasi ini. Ada beberapa anak yang justru asyik berenang dan tertawa, ada juga ibu-ibu kantoran yang sibuk berfoto di bundaran HI.

Jalanan dari Tosari-Bundaran HI

Jalanan dari Tosari-Bundaran HI

perahu karet membantu warga

perahu karet membantu warga

Sampai di Bundaran HI, saya istirahat sebentar. Sempat terpikir untuk mengungsi ke Plaza Indonesia, mencari colokan untuk charger BB sambil makan, tapi saya urungkan karena keuangan menipis (sedih sekali ya ini). 15 menit di Bundaran HI, saya lanjutkan perjalanan.

Ternyata, menuju Sarinah dari Bund HI, air semakin tinggi. Hampir sedada saya, berarti sudah semeter lebih. Sudah kepalang basah, yaudah lah ya saya lanjut saja. Untungnya semakin ramai yang berjalan bersama saya menuju arah Sarinah, sehingga nggak merasa miserable banget lah banjir-banjir basah gini.

sarinah-Thamrin

sarinah-Thamrin

IMG_3590
Setelah berjalan hampir 45 menit dari bundara HI, barulah saya sampai di Bank Indonesia. Tanggung, saya lanjutkan jalan kaki ke kantor yang kira-kira satu kilometer dari Bank Indonesia.

Sesampainya di Kantor, badan saya sudah basah total, apalagi menjelang kantor hujan turun lagi. Total perjalanan saya hampir dua jam dari Semanggi menuju kantor, kebayang kan gimana bentuk kaki saya? :))

Besoknya, ternyata kejadian sama menimpa saya lagi. Keesokan harinya, saya memutuskan untuk naik kereta, meski menurut berita kereta hanya sampai di Stasiun Manggarai saja perjalanannya. Saat tiba di Manggarai, stasiun itu sudah penuh dengan orang-orang yang berebutan ojek dan bajaj menuju kantornya masing-masing. Tukang Ojek dan Bajaj pun mengambil untung dari situasi ini dengan mematok tarif mahal.

Akhirnya, demi menghemat uang dan juga malas berebutan bajaj dan ojek, saya berdua atasan saya memutuskan untuk menyusuri rel kereta dari Stasiun Manggarai hingga Stasiun Gondangdia. Secara teori sih nggak jauh, karena Stasiun Gondangdia hanya berjarak dua stasiun dari Manggarai.

Kenyataannya? butuh waktu hampir dua jam lagi bagi kami berdua untuk sampai di kantor. Ditambah kaki yang sakit karena menyusuri jalanan rel yang berbatu, rasanya hampir sama trekking Manggarai-Gondangdia seperti trekking Sawarna-Legoon Pari :))

Anyway, itulah petualangan saya di Jakarta selama Januari lalu. Benar-benar suatu experience baru yang ditawarkan ibukota yang sangat saya cintai ini. This city never failed to surprise me 🙂

Date a Girl Who Travels

Date a girl who travels. Date a girl who would rather save up for out of town trips or day trips than buy new shoes or clothes. She may not look like a fashion plate, but behind that tanned and freckled face from all the days out in the sun, lies a mind that can take you places and an open heart that will take you for what you are, not for what you can be.

Date a girl who travels. You’ll recognize her by the backpack she always carries. She won’t be carrying a dainty handbag; where will she put her travel journal, her pens, and the LED flashlight that’s always attached to her bag’s zipper? In a small purse, how can she bring the small coil of travel string, the wet tissues, the box of cracker, and the bottle of water she’s always ready with, just in case something happens and she can’t go home yet?

Yes, a girl who travels knows that anytime, anything can happen and she just has to be prepared with it. Nothing takes her by surprise; she takes everything with equanimity, knowing that such things are always a part of life. She’s reliable and dependable, traits that she’s learned while on the road.

You’ll also recognize a girl who travels by the fact that she’s always amazed at the world around her, no matter if she’s in her home town or in a place that’s totally new. She sees beauty all around her, not just the ones featured in travel guides or shown in postcards. A girl who travels has developed a deeper appreciation for life. She won’t judge you, or pressure you to do things you don’t want to do. She knows too much about the importance of identity and self-efficacy, and she will appreciate all the more if you won’t pretend to be who you’re not.

You can lie to a girl who travels and make mistakes, and you can also be as idiosyncratic as you can be. Trust me, she has seen so much worse in her travels, and knows firsthand the vagaries of human nature.

Date a girl who travels, because when you’re with her, you’ll realize that even though she’s napped at a temple in Angkor Wat, went boating down the Mekong Delta, ran by the streets of Saigon, or went skinny-dipping in the caves in the Philippines, she still retains that humility that is the mark of a real traveler. She knows she’s been to a lot of places, but she’s humbled by the fact that the world is still a big place and she’s only seen a small part of it. Seeing this in her can make you feel all right with yourself too; there’s no need for you to do more, to be more. What you are is enough.

When you meet a girl who travels, ask her where she’s been and what she’s going to do next. She will appreciate your interest, and if you’re lucky, she may even invite you to join her. When she does, do. Nothing bonds people better than traveling. On your trips, you will both see each other’s best and worst characteristics, and you can then decide whether she’s worth fighting for.

It’s easy enough to date a girl who travels. She won’t want expensive gifts; you can buy her (or both of you) cheap tickets to Thailand for the weekend, and she’ll be more than happy to take you to the longest wooden bridge in the country. You don’t even have to go overseas; you can take her out on day trips, caving or hiking, or treat her to a full body massage.

You can also buy her the little things that she keeps forgetting to buy for herself; that carabiner that will attach her backpack to her seat so that she will feel easier about sleeping on her bus trip, or a backpack cover, a small alarm clock, a  money belt, or maybe another sarong that will replace the one she lost in China.

She won’t mind if you get lost on your way to a date. She knows that oftentimes, the journey is more important than the destination. She will help you see the lighter side of things. She’ll walk along with you, not behind you, pointing out the interesting bits of things you’ll see on the way. Before long, you’ll realize that yes, the journey has been more memorable than the destination that you’ve planned to take her to.

Is a girl who travels worth it? Yes, she is. So when you find her, keep her. Don’t lose her with your insecurities and doubts. Because when she says she loves you, she really does. After all, she’s seen so many things, met so many people, and if she had chosen you, better grab that opportunity and thank the gods that you were lucky enough she’s chosen you and not that bloke she met while watching the sun rise in Angkor Wat, or while whitewater rafting in the Padas Gorge in Sabah.

If she says she loves you, she must have seen something in you, something that can always call her back from her travels, something that can anchor her to the world in the way that she wants to after weeks and months of being on the road.

Date a girl who travels. Make her feel safe, warm, and secure. Make her believe that no matter where she goes, and however long she’s gone, you’ll always be there for her, the one that she can call home.

Find a girl who travels. Date her, love her, and marry her, and your world will never be the same again.

taken from Solitary Wanderer

The Bucket List

Pernah nonton film The Bucket List?well, gue belum. Tapi kata sepupu gue yang udah nonton, ini film bagussss banget! The Bucket List ini dibintangin Jack Nicholson dan Morgan Freeman, yang ceritanya tentang dua orang yang lagi terserang penyakit kanker trus doing a road trip with a wih list of to-dos before they die.

Gue emang belum pernah nonton The Bucket List, tapi I already create my own bucket list. Isinya…sebagian besar tentang travelling tentunya. tempat-tempat yang pengen banget gue datengin. Well, here it is, sebagian isi bucket list gue:

1. Riding air balloon in Turkey

2. Buy Saree in India

3. Traveling to east Indonesia (Ambon, Flores, Lombok) alone  Done! (2 May 2012)

4. Diving. in any place. Done! (2 May 2012)

5. Sip a cup of coffee in Bromo

6. Stargazing from the rooftop building in Jakarta

20. Ride the orient express

21. Ride the “London Eye” and perhaps, having a dinner inside

24. visit the smithsonian

27. take a bet in las vegas

28. getting drunk in Irish

40. meditate in himalaya

41. doing my version of eat, pray, love

46. Honey moon in Africa

47. Traveling around java with my bestfriend

48. attend new year’s eve in NYC

Dan dari list itu…belum satupun yang kesampean! salah satunya nyariiiis aja kesampean, travelling to east Indonesia alone. tapi bataaal T____T

anyway, Im getting there. sekali lagi: Law of Attraction, if you think you can do it, then you definetely will! dari semuanya yang paling mungkin dilakukan sekarang-sekarang ini ya yang lokasinya di Indonesia aja 😀

Salah satu yang paling pengen gue lakuin di bucket list itu adalah traveling around Java. Awalnya sebenernya janji kecil dari seorang sahabat, but I do take it seriously. Kenapa Jawa? karena pertama transportasinya ga susah, dan di Jawa tuh banyak yang keren-keren! gue bahkan udah nyusun secara kasar itenerary-nya. Here it is:

Banten:

1. Desa Sawarna
Di Banten, gak ada tempat lain yang lebih indah daripada Desa Sawarna. Katanya sih, desa ini ada pantai, hutan juga goa-goa karst. Pantainya juga dikabarin bagus banget buat surfing.

Desa Sawarna

Jawa Barat:

1. Green Canyon
Green Canyon ini letaknya di deket pantai Pangandaran. Jadi kaya ada sungai di tengah lembah gitu deh..pertama kita bakal naik perahu dari muara Sungai Cijulang, terus dilanjutin berenang sampe ke dermaga green canyonnya. dari situ ada batu, nah boleh loncat dari situ. Yang jelas kata sepupu gue yang pernah kesana, green canyon itu kereeen banget! everything is green and blue.

Green Canyon

2. Garut, Tasikmalaya, Sukabumi
Gue belum pernah ke tiga kota ini, tapi dari cerita yang gue denger dari temen-temen gue, garut tasik sama sukabumi itu tempat di Jawa Barat yang dingiin. Well, mungkin kalo kesini sekedar strolling around kotanya kali ya, tapi ke desa-desanya gitu. Atau mungkin ke Pantai Ujung Genteng, yang katanya juga salah satu pantai terindah di Jawa Barat.

Jawa Tengah:

1. Solo
Penasaran banget lihat keraton Solo (dan, gue juga baru tahu kalo Solo itu sebenernya nama aslinya Surakarta. My bad 😀 ). trus juga katanya disini banyak makanan-makanan enak di pinggir jalan.

2. Karimun Jawa
Gue udah sering banget denger soal Karimun Jawa sebelumnya and I’m really eager to go there. Karimun Jawa ini sebenernya adalah sebuah kepulauan dengan banyak pulau-pulau kecil dimana kita bisa snorkeling sama diving. Gue liat foto-fotonya dan itu bener-bener keren banget! Apalagi, itu semuanya murah muraaah. arrrr.

Karimun Jawa

Yogyakarta:

Kaya yang gue bilang, gue tuh udah pernah ke Yogyakarta sebelumnya. Udah ke tamansari, udah ke prambanan, udah ke Ullen Sentalu…tapi gue masih penasaran banget sama Candi Borobudur! dan gue pengeeen banget ngeliat candi borobudur waktu malem, walopun katanya candi ini jam 5 juga udah tutup sih. Gue juga pengeen foto-foto di Gumuk Pasir, satu-satunya gurun pasir yang ada di Indonesia. Dan yang paling penting, gue pengen ngerasain lagi sedapnya kuliner jogja yang murah-murah di malam hari.

Gumuk Pasir

Jawa Timur

1. Malang
My dad is from Jawa Timur, jadi kayaknya…waktu kecil gue udah pernah kesini deh. tapi gak inget. dan gue pengen kesini lagi, katanya malang itu kota yang dingin banget! Pengen ke Batu, yang katanya ada kaya semacem dufan mininya. Penasaran aja pengen liat kehidupan kota Malang 🙂 apalagi, dari Malang itu titik menuju tempat wisata selanjutnya.

Malang at night

2. Pulau Sempu
Pulau Sempu ini ada di sebelah selatan pulau Jawa, masih masuk kawasan Kabupaten Malang. Gue tuh dari dulu penasaraaan banget sama pulau sempu, yang di tengah-tengah pulaunya ada kaya danau yang isinya air laut yang terperangkap di atol pulau ini. Apalagi, untuk mencapai pulau ini harus trekking dulu, trus kemping di tepi pantainya. Jadi makin challenging kan 😀

Pulau Sempu

3. Bromo-Tengger-Semeru
Kemaren, gue baru bikin soal artikel Bromo disini. dan ya Tuhan…Bromo tuh keren banget!! asli, asli, asli, keren..jadi lo bisa naik jip sampe ke pananjakan, trus naik kuda ke tangga yang menuju puncaknya, trus dari situ lu naik, bisa liat kawah bromo, yang berlatar belakang pemandangan Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa. I’ve seen the picture and its stunning. obviously. Dan kenapa gue nempatin Bromo di posisi terakhir? karena journey to this place’s gonna be the top one. puncaknya. awesome.

Sunrise at Bromo

Well, thats my itenerary about traveling around Java. Gue gak tau kapan bisa ngelakuin ini, but Im still looking forward for this. Its a promise. 🙂

*satu yang paling gue suka dari traveling around Java is..lo bisa ngelakuin ini dengan kereta, bus, dan pesawat. gue ngebayangin, pertama-tama naik bus, trus kereta, trus endingnya pulang ke Jakartanya naik pesawat deh. Easy, right?

**check out the rest of my bucket list here

“What’s important is the journey, not the destination”