Hot, Steamy One Night Stand

“If you like big cities, you should see Hong Kong. It’s one of my favorite place in Asia!”

That’s what he said. So then when I had the chance (and limited day off from work), without hesitate I booked ticket to HK after I traveled from Mumbai, India.

I only have 20 hours in Hong Kong. That means not much to see. I wouldn’t mind though; all I wanted was to see the city skyline from Victoria Harbour. That’s all.

I was going to say that HK is a prove that love at first sight does exist. I do fell in love with the city just when step my foot on its land. My fondness grew gradually as I see the tall-high buildings surrounded by mountains. But saying that would be such a naiive judgement.  Actually, because I only have 20 hours in the city, it might best to describe my experience as a hot, steamy one night stand.

Because that’s what it is. A brief time in HK, I feel like falling in love with a super hot guy I met for one night stand. It’s adventurous, fun, exciting, everything looks shimmering and promising. That’s how I feel about HK; it’s like I could live there forever. The lights of the city took my breath away. I was stunned when I saw the city’s skyline from Victoria Harbour. Food? Oh God, beyond amazing. I like the weather (it was mid-march and raining all day), I like the people. I like how HK can mix the old-school with modern way. I keep thinking about how I wanted to live here someday, how I could see myself moving to HK.

But then again, everything does look perfect if you only look at it in a glance. Like the hot guy you had one night stand with, you’d think he’s the perfect guy for you. Smart, attractive and great in bed. You feel like having him as your partner in life. But that’s because you only know him briefly. You don’t know what could push his button, what makes him tick.. It all seems good and perfect, because you haven’t got the chance to know him better.
So yeah, (seems like my writing is going nowhere here) my conclusion is that I can’t judge with only one, short visit. So HK, I’ll be back for more.

((Boy I wish I could say the same for *other* things 😉 ))

Advertisements

On Becoming a Journalist

Beberapa pekan lalu, ada teman saya yang bertanya. “Kenapa masih mau jadi wartawan sih mut? Gaji nggak seberapa. Ya emang sih, lo bisa traveling gratis. Tapi kalau lo cari kerja di bidang lain, lo bisa lebih santai. Sabtu-minggu-tanggal merah libur, gaji lebih besar. Lo bisa nabung, dan uangnya bisa biayain lo traveling juga kan?”

Waktu itu, saya hanya tersenyum mendengarnya. Bukan berarti hal itu nggak pernah terlintas juga di pikiran saya. Tapi…

Memang akhir-akhir ini saya sering mengeluhkan ke teman-teman mengenai masa depan saya di bidang kuli tinta ini. To be honest, salarynya masih ya gitu deh. Yang paling saya khawatirkan adalah saya sudah hampir dua tahun bekerja, usia juga sudah mau 24. Tapi belum bisa menabung. Saya iri dengan teman-teman yang mulai bisa nabung untuk cicil DP rumah, apalagi harga rumah itu setiap tahun bisa naik sampai 10 juta!

Saya pernah baca (lupa dimana). Katanya kalau mau kaya raya ya jangan jadi wartawan. Sampai kapanpun wartawan gajinya ya akan segitu. Untuk penghidupan yang cukup, bukan lebih. Kalau mau kaya raya, jadi pengusaha saja.

Dan saya (sampai tulisan ini diketik) masih memutuskan untuk tetap jadi wartawan saja.

Ada terlalu banyak alasan saya untuk bertahan di sini dibanding alasan saya untuk meninggalkannya. Yes, the salary is not good. Yes, liburnya lebih sedikit dibanding orang lain. Tapi…

Pengalaman yang didapat itu luar biasa. I mean, saya yakin setiap pekerjaan pasti ada manfaatnya, pasti memberikan pengalaman yang berbeda. Tapi yang saya dapat selama hampir dua tahun jadi jurnalis ini benar-benar hampir sama dengan apa yang saya impikan.

Bukan hanya tentang “traveling gratis, dibayarin pula!”. Tapi bagaimana mendapat pengalaman perjalanan berbeda yang mungkin tidak semua orang bisa merasakannya. Seperti April lalu, saat saya, beberapa rekan wartawan dan tujuh orang wanita berpetualang dari Pontianak, masuk ke Malaysia melalui jalur darat. Kalau saya pergi sendiri, belum tentu saya mau lewat jalan itu.

Atau waktu tahun lalu, saat ikut acara Sail Morotai di Maluku Utara. Saya beruntung sekali dapat kesempatan ke salah satu pulau terluar di Indonesia, yang dulunya bekas pendaratan tentara Amerika Serikat saat Perang Dunia II. Kalau bukan karena liputan, sepertinya tidak akan mungkin saya kesana.

Belum lagi apa yang saya lakukan di pekerjaan ini: menulis. Saat menulis, rasanya jari-jari ini terbang ke tempat lain. Imajinasi membuka, tangan seakan jadi perpanjangan kaki untuk melangkah melihat dunia. For me, writing is liberating. Saat-saat menulis adalah saat ketika saya merasa memiliki kuasa akan sesuatu, and for a moment its like i own this world.

Saya percaya, uang bisa membawa kita kemana saja. Tapi tentunya harus dibarengi dengan kemauan. Belum lagi ditambah kebutuhan-kebutuhan. Semakin banyak uang akan semakin banyak pula yang harus dibayar. Tagihan listrik, cicilan rumah, dll, dsb, dst.

Jadi itulah, alasan saya bertahan menjadi jurnalis. Saya percaya with passion then comes money. And at least inspite of everything, it makes me happy.

Dan di dunia yang katanya ruwet sekarang ini, kebahagiaan itu kabarnya semakin sulit dicari. Saya beruntung menemukannya 🙂